Wishnu Wardhana Mafia Sepakbola Surabaya Itu Akhirnya Ditangkap Di Jalan Raya

Lega, itulah perasaan saya siang ini ketika melihat berita penangkapan Wishnu Wardana (disingkat Wewe) oleh Polisi di jalan raya. Diciduk persis seperti maling ayam. Sayangnya, tidak ada aksi amuk massa dari bonek untuk orang yang pernah bikin Persebaya palsu ini.

Wewe ditangkap dalam kasus korupsi BUMD. Bukan dalam kapasitasnya bikin Persebaya Palsu. Tapi itu sudah bikin saya klimaks … nikmat pollll.

Asal usul tingkah Wewe bikin Persebaya Palsu.

Matchday terakhir Liga Super Indonesia 2009-2010. Tiga tim sedang berjuang lolos ke babak Play Off dari Zona Degradasi, yaitu: Persebaya, Persik dan Pelita Jaya.

Jadwalnya:
Persik vs Persebaya
dan
Pelita Jaya vs Persela Lamongan.

Persebaya hanya butuh hasil imbang agar mereka akan lolos ke babak Play Off, melawan peringkat 4 tim Divisi Utama. Sedang nasib Pelita Jaya dan Persik pasti degradasi.

Persik harus mengalahkan Persebaya lebih dari lima gol jika ingin lolos.

Harapan Pelita Jaya hanya jika Persebaya kalah berapapun skornya.
Pelita Jaya berhasil mengalahkan lawanya 6-3.

Namun naas bagi Persebaya. Pertandinganya melawan Persik Kediri gagal digelar dengan alasan dibatalkan oleh Polisi demi keamanan.

Sesuai aturan, bahwa kegagalan menggelar laga kandang berimplikasi pada sanksi terhadap tuan rumah dan Persebaya mestinya dinyatakan menang WO dengan skor 3-0.

PSSI yang diketua Nurdin Halid dari Partai Golkar tidak memberikan kemenangan otomatis kepada Persebaya. PSSI justru memberi kesempatan kepada Persik menggelar laga kandang.

Karena jika Persebaya diberi menang, maka Pelita Jaya milik Abu Rizal Bakri yang saat itu Ketua Umum Partai Golkar akan langsung degradasi.

PSSI memutuskan pertandingan dipindahkan ke Yogyakarta. Tetapi lagi-lagi panitia gagal menggelarnya. Sanksi tak langsung dijatuhkan. Persik diberi kesempatan lagi menggelar pertandingan di Kediri.

Di kesempatan ketiga ini, pertandingan ternyata kembali batal.

Sekretaris Jenderal PSSI saat itu, Nugraha Besoes, menyatakan bahwa aturan liga terhadap tim yang gagal menyelenggarakan pertandingan harus tetap dipatuhi. “Kalau memang gagal, saya serahkan sepenuhnya pada Liga sebagai pengelola kompetisi untuk menjalankan aturan. Kalau di manual Liga dinyatakan kalah, ya sudah, aturan itu harus ditaati.”

Namun PSSI rezim Nurdin Halid kembali berulah. Persik diberi kesempatan lagi menggelar pertandingan ulang digelar di Palembang. Kali ini Persebaya menolak hadir.

Oleh komdis PSSI tim Persebaya langsung dinyatakan kalah 0-3 dan terdegradasi. Pelita Jaya milik Ketum Partai Golkar bertahan di Liga Super.

Perlawanan pecah. Saat Arifin Panigoro membentuk kompetisi tandingan bertajuk Liga Primer Indonesia, Persebaya memutuskan ikut kompetisi breakaway league bersama klub Liga Super lain: Semen Padang, PSM Makassar, Arema Indonesia, Persema Malang, dan Persibo Bojonegoro. Pembangkangan ini membuat semua klub itu dijatuhi sanksi.

Nah dari sinilah mulai berulah si Wewe alias Wishnu Wardhana.

Wewe yang saat itu menjadi ketua DPRD Kota Surabaya membeli tim Persikubar Kutai Barat lalu dirubah menjadi Persebaya kemudian didaftarkan ke PSSI sebagai Persebaya ISL.

Bermodal duit dari korupsi atau hasil ngepet atau entahlahh. Si Wewe berhasil memecah belah klub internal Persebaya. Sebagian anggota klub internal merapat dan bergabung ke Persebaya tandingan.

Bahkan Wewe juga sempat mempengaruhi Polisi agar Persebaya Asli dipersulit memperoleh izin menggelar pertandingan Liga Primer pada 2011.

Dengan alasan keamanan, Kepolisian Daerah Jawa Timur mensyaratkan kepada PT Persebaya Indonesia yang menaungi Persebaya agar mengubah nama. Manajemen akhirnya memilih nama Persebaya 1927. Sementara nama Persebaya tanpa embel-embel apa pun digunakan tim replika yang direstui Napi yang jadi ketua PSSI si Nurdin Halid.

Bonek menunjukkan cara sendiri untuk melawan. Mereka menolak menonton langsung Persebaya Palsu milik si Wewe di stadion Gelora 10 Nopember dan memilih memadati pertandingan Persebaya 1927. Alhasil, pertandingan Persebaya si Wewe selalu sepi, bahkan sekalipun tiket menonton digratiskan.

Saat Djohar Arifin yang notabene disokong Arifin Panigoro menjadi Ketua Umum PSSI pada 2011 mengubah peta politik di PSSI. Status kompetisi Liga Primer Indonesia yang diikuti Persebaya 1927 akhirnya dianggap resmi dan diakui.

Namun tak bertahan lama, karena orang-orang dari pro Nurdin Halid memberontak dan membentuk kompetisi tandingan di bawah Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI), dengan La Nyalla Mattalitti sebagai pemimpinnya.

Nah, si Wewe mendapat dukungan dari Mattalitti untuk terus menjalankan Persebaya Palsu. Mataliti bahkan melarang Persebaya yang Asli tampil di kompetisi mana pun.

Sejak saat itu, Persebaya menjadi tim antah-berantah dalam sepakbola Indonesia. Bajul Ijo dilarang berkompetisi dan mengikuti turnamen sepakbola nasional. Sejak itu pula ribuan Bonek mengosongkan stadion, melipat spanduk dan syal, menyongsong ‘kematian suri’ klub kebanggaan mereka.

Bonek terus melawan sampai akhirnya Rezim Mataliti tumbang di PSSI. Persebaya Palsu berubah nama jadi Persebaya Bonek lalu jadi Surabaya United dan sekarang Bahyangkara FC.

Pemimpin baru PSSI Edy Rahmayadi, mengesahkan lagi Persebaya. Mengizinkan klub kebanggan Jawa Timur itu tampil pentas liga.

Si Wewe akhirnya kandas di penjara. Sayangnya, temannya maasih lolos dan maju menjadi legislator. Tapi percayalah, pasti ada Karma.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*