Virus Corona, Azab Allah Untuk Jamaah Tabligh Yang Terpecah Belah

Jamaah Tabligh pecah jadi dua di tahun 2015. Penyebabnya adalah saat salah satu anggota Majlis Syura, bernama Maulana Saad mengklaim dirinya sebagai Amir (Pemimpin) JT tingkat dunia di Markas pusat JT di Nizhamudin, New Delhi, India. Saad juga mengangkat dirinya dengan gelar Haadrad Ji (Guru Besar).

Klaim Saad ditolak oleh para anggota Majlis Syura. Mereka tetap menginginkan JT dipimpin oleh Majlis Syura. Setiap keputusan dan pergerakan JT didasarkan pada hasil musyawarah Majlis Syura bukan atas perintah Amir.

Dari sinilah JT pecah jadi dua. JT Maulana Saad (JT MS) dengan JT Syura Alami (JT SA).

Usia JT sendiri sebenarnya seumuran dengan Muhammadiyah dan NU. Berdiri tahun 1920-an. Tapi efek perpecahan ini luar biasa. Antar anggota kubu JT seperti perang. JT MS dan JT SA saling menyebarkan fitnah ke satu sama lainya.

Perpecahan ini merembet ke negara-negara lainya. Dari Inggris sampai Indonesia juga ikut pecah. Bahkan sampai terjadi perang tawuran antar kedua kelompok saat ijtimak tonggi di Bangladesh.

Di Indonesia kadar permusuhan kedua kelompok juga sangat keras. Ceramah (Bayan) di masing-masing kelompok isinya olok-olokan. JT-MS menuding bahwa JT-SA telah didanai oleh Yahudi bahkan digaji bulanan oleh Wahabi Saudi. Begitu juga sebaliknya.

Markas JT Indonesia juga akhirnya pisah jadi dua. JT-MS tetap di Masjid Kebon Jeruk sedangkan JT-SA di Masjid Ancol Jakarta.

Pusat dakwah pesantren juga pecah. Pesantren Temboro, Magetan memilih berpihak ke JT-MS. Dan sebagai tandinganya, JT-SA memusatkan pengkaderan santri di Pesantren Payaman, Magelang.

Di tingkat bawah. Baik jamaah JT-MS dan JT-SA saling usir mengusir, jika mendapati bahwa jamaah yang masuk ke wilayahnya tidak segolongan. Sangat memalukan.

Yang memalukan lagi saat ada Ulama dari JT-SA meninggal, maka pendukung JT-MS akan bersorak gembira. Begitu juga sebaliknya. Mereka seakan lupa bahwa dulu mereka juga mengambil ilmu dari ulama tersebut.

Saat Corona ini, Jamaah Tabligh telah dihinakan di India, di Malaysia dan di Indonesia sebagai penyebab penyebaran Corona. Bukan menyebarkan hidayah tapi malah sebarkan wabah.

Di India, Maulana Saad pemimpin JT-MS jadi buronan polisi karena nekad menggelar ijtimak di saat lockdown. Dan peserta Ijtimak lalu menjadi penyebar Corona terbanyak di India.

Di Malaysia, Ijtima tingkat ASEAN di Masjid Sri Petaling oleh JT-MS jadi sumber malapetaka penyebar Corona terbanyak di sana, di Brunei, di Thailand dan di Indonesia.

Di Indonesia, JT-SA jadi biang kerok penyebaran Covid-19 karena nekad menggelar Ijtimak Asia di Gowa. JT-MS juga sama. Markas mereka di Kebon Jeruk jadi pusat penyebaran Corona setelah menggelar Ijtimak. Demikian juga pesantren Temboro.

Hal ini harusnya jadi Instrospeksi bagi Jamaah Tabligh untuk bersatu kembali. Meninggalkan perselisihan. Mereka seakan lupa tentang doktrin 6 sifat dasar yang harus dimiliki, salah satunya tentang ikromul muslim.

Yaitu, kewajiban untuk memuliakan sesama muslim, menutupi aibnya, dan mencegah perpecahan.

Jadi, bisa jadi Coroba ini adalah Azab dari Allah untuk Jamaah Tablih yang telah lupa pada sifat Ikromul Muslim yang selama ini mereka dakwahkan.

Ingat, salah satu dosa besar di hadapan Allah adalah, mendakwahkan apa yang tidak dikerjakan.

Video Tawuran antar JT-MS vs JT-SA sast ijtimak tingkat dunia di Tonggi Bangladesh.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*