Sultan Osman II, Raja Paling Ganteng Dalam Dinasti Turki Yang Dibunuh Korps Janisssari

Sultan Osman II dari Kekaisaran Ottoman lahir sebagai Shezade (Pangeran) Osman di Istana Topkapi di Istanbul dari pasangan Sultan Ahmed I dan selirnya Mahfiruz Sultan. Osman naik takhta pada usia 13 tahun dalam kudeta Korps Janissari terhadap pamannya Sultan Mustafa I yang didalangi para jenderal prajurit Janissari.

Meskipun masa mudanya ia bertekad untuk memerintah secara pribadi, tetapi akhirnya dibunuh oleh pasukan Janissari sendiri kurang dari lima tahun ke pemerintahannya.

Ketika Sultan Osman bertahta pada usia muda, tindakan pertamanya adalah melakukan perubahan dalam tugas administrasi dan di antara anggota dewan negara. Politik militer terpecah karena pilihan antara perang dengan Persia di Timur dan perang dengan Polandia di Barat. Setelah itu menetapkan perintah yang diperlukan, Osman II memutuskan untuk mobilisasi ke Polandia meskipun ada keberatan dari tentara, dan turun sendiri memimpin invasi tersebuti.

Ibunya sangat berhati-hati dengan pelatihannya. Sultan Osman memiliki pendidikan yang kuat. Dia belajar bahasa timur dan barat seperti bahasa Arab, Persia, Latin, Yunani dan Italia, dengan lancar dia menerjemahkan klasik. Osman II memiliki wajah yang sangat tampan, dia sangat pintar, energik, dan berani. Sultan Osman II menikah dengan putri dari menteri urusan agama islam (Sheikulislam) Er’ad Efendi. Sikapnya ini merupakan perubahan besar karena sejak kesultanan Selim I, para sultan biasanya harus menikah dengan anggota keluarga klan Usmani. Osman II tidak memiliki wazir agung atau maha patih dia memimpin sendiri semua kendali pemerintahan.

Dia dicopot dan dibunuh di Yedikule Dungeons, dia dimakamkan di dekat makam ayahnya Sultan Ahmed I, di Masjid Sultan Ahmed. Sultan Osman adalah seorang pembaharu, ia mereformasi banyak masalah pemerintahan. Dia membatasi otoritas seyhulislam (Menteri masalah Islam) segera setelah dia naik tahta. Sultan Osman adalah seorang penulis dan penyair. Dia menulis puisi dalam bahasa Persia dengan nama pena Farisi. Sultan yang terbunuh di usia yang masih sangat muda mengungkapkan kesedihannya dalam puisinya.

Selama tahun-tahun pemerintahannya, negara harus menghadapi bencana alam berturut-turut di Istanbul. Satu bagian dari Pasar Tertutup Istanbul terbakar pada tahun 1621 dan bagian yang tersisa pada tahun berikutnya. Niat utama Sultan Osman adalah untuk melenyapkan Jannissari, dan Korps Jannissari yang digunakanya untuk mengkudeta. Oleh karena itu, dia memulai persiapan bersama dengan perwira-perwiranya yang handal.

Studi juga berlanjut tentang metode pembentukan disiplin militer baru yang akan menggantikan Korps Jannissary. Jannissari mendengar tentang kegiatan ini dan mereka berkumpul di Alun-Alun Sultanahmet mengajukan beberapa permintaan dalam pemberontakan. Karena mereka mengira bahwa Penguasa akan memusnahkan mereka, mereka bertindak di hadapannya dan menyerbu Istana. Mereka menobatkan Sultan Mustafa dan membunuh Sultan reformis itu

sumber: theottomans.org

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*