Sejarah Ponorogo Lahir Dari Perang Segitiga Wengker, Majapahit dan Demak

Ki Ageng Kutu, Adipati Wengker, adalah keturunan bangsawan Majapahit yang pro pada kekuasaan Bhre Kertabhumi di Trowulan, Kotaraja Majapahit. Kertabhumi sendiri naik tahta pada tahun 1474 setelah menggulingkan Suraprabhawa Singhawikramawardhana pamanya.
Suraprabhawa kemudian menyingkir ke wilayah Daha, Kediri menjadi adipati sampai wafat. Dia punya anak bernama Ranawijaya. Tahun 1478, Ranawijaya membalas dendam pada Kertabhumi. Selain berhasil mengalahkannya dan merebut mahkota Raja Majapahit, dia juga menghancurkan Kota Trowulan dan memindahkan ibukota Majapahit ke Daha, Kediri.

Ki Ageng Kutu, yang menjadi Adipati Wengker dan membawahi pasukan Warok benar-benar marah dengan keadaan ini. Dia bersiap untuk menyerbu dan menggulingkan Ranawijaya sebagai balas dendam.

Bagi Ki Ageng Kutu, Ranawijaya tidak berhak atas tahta Majapahit, dan Majapahit yang sekarang beribu kota di Daha bukanlah keturunan Wangsa Rajasa.

Ki Ageng Kutu, memaklumatkan perang dengan Ranawijaya, Raja Majapahit di Kediri.

Tantangan itu dijawab oleh Ranawijaya dengan mengirimkan sejumlah pasukan tempur dibawah pimpinan Raden Bathara Katong, putra selir beliau.

Peperangan terjadi. Pasukan Majapahit terpukul mundur. Hal ini disebabkan, banyak para prajurit Majapahit yang membelot dari kesatuannya dan memperkuat barisan Wengker karena menganggap Ki Ageng Kutu adalah benar membela Bhre Kertabhumi, menuntut balas kehancuran Trowulan.

Pasukan Majapahit yang dipimpin Raden Bathara Katong kocar-kacir, kalah.

Raden Bathara Katong yang merasa malu karena telah gagal menjalankan tugas, tidak mau pulang ke Daha Kediri, Ibukota Majapahit yang baru. Dia bertekad, bagaimanapun juga, Wengker harus ditundukkan.

Konflik ini dimanfaatkan oleh Ki Ageng Mirah dari Giriwana. Giriwana atau Wonogiri saat ini sudah dikuasai pengaruh Islam Demak.
Ki Ageng Mirah adalah salah satu orang penting Demak di wilayah Giriwana. Dia mendengar Raden Bathara Katong tidak pulang ke Majapahit, dia berusaha mencarinya, dan berhasil menemukan tempat persembunyian Raden Bathara Katong.

Demak terus meluaskan kekuasaanya dengan target menaklukan kawasan kadipaten di bawah Majapahit yang berstatus quo, yang menolak mengakui Ranawijaya sebagai raja. Salah satunya adalah Wengker. Satu per satu menaklukan kadipaten yang seperti ini lebih mudah daripada menyerang langsung ke Daha, Majapahit.

Posisi Wengker yang berada di sebelah barat daya dari Kediri juga dianggap sangat strategis untuk menjadi pertahanan wilayah kekuasaan Demak.

Demak sendiri dipimpin oleh Raden Fatah, putra dari Bhre Kertabhumi dari istri selir putri Champa. Dia pun masih ada garis saudara dengan Raden Bathara Katong.

Raden Fatah berambisi menggulingkan Ranawijaya untuk menjadi Raja Jawa dari Trah Majapahit dan mendapat pengakuan dari rakyat Jawa sebagai penerus Bhre Kertabhumi atau Brawijaya V.

Ki Ageng Mirah menawarkan solusi dengan memanfaatkan Bathara Katong untuk menundukkan Wengker karena dia sudah lama tinggal disana. Bathara Katong masuk Islam agar mendapat sokongan militer dari Demak.

Dia telah malu untuk meminta bantuan militer lagi dari Daha. Reputasinya sudah hancur di sana. Dia berfikir posisi Majapahit di Kediri sudah melemah karena kekalahanya, gak mungkin meladeni kekuatan para Ksatria Warok Wengker.

Ki Ageng Mirah juga berhasil meyakinkan Demak, jika berhasil menguasai Wengker, pengislaman tanah Jawa akan semakin mudah, kekuasaany juga aman.

Atas nasehat Ki Ageng Mirah. Raden Bathara Katong pura-pura membelot memihak Wengker, berpaling dari pihak Ranawijaya sebagai Raja Majapahit .

Ki Ageng Kutu menerima sumpah setia Raden Bathara Katong. Bathara Katong lalu mengutarakan niatnya untuk mempersunting Ni Ken Gendhini, putri sulung Ki Ageng Kutu sebagai istri. Mengingat status Raden Bathara Katong sebagai seorang putra Raja Majapahit, lamaran itu diaambut gembira oleh Ki Ageng Kutu

Pernikahan ini hanya sekedar taktinya untuk mencari kelemahan Wengker dan Ki Ageng Kutu. Ni Ken Gendhini, putri Ki Ageng Kutu bisa dimanfaatkan untuk tujuan itu.

Raden Bathara Katong menuruti semua rencana yang disusun Ki Ageng Mirah. Dan semua berjalan lancar.

Ni Ken Gendhini mempunyai dua orang adik laki-laki, Sura Menggala dan Sura Handaka. (Sura Menggala = baca Suromenggolo, sampai sekarang menjadi tokoh kebanggaan masyarakat Ponorogo. Dikenal dengan nama Warok Suromenggolo : Damar Shashangka).

Ni Ken Gendhini dan Sura Menggala berhasil masuk pengaruh Raden Bathara Katong, sedangkan Sura Handaka tidak.

Raden Bathara Katong berhasil mengungkap segala seluk-beluk kelemahan Wengker dari Ni Ken Gendhini. Inilah yang diceritakan secara simbolik dengan dicurinya Keris Pusaka Ki Ageng Kutu, yang bernama Keris Kyai Condhong Rawe oleh Ni Ken Gendhini dan kemudian diserahkan kepada Raden Bathara Katong.

Saat dirasa sudah tepat waktunya, Ki Ageng Mirah mengundang pasukan Demak menyerbu Wengker.

Bathara Katong dan Ki Ageng Kutu diadu! Demak sebagai pihak ketiga bermain disana dengan pasukanya.

Peperangan kembali pecah. Ki Ageng Kutu yang benar-benar merasa kecolongan, dengan marah mengamuk dimedan laga bagai bantheng ketaton, bagai banteng yang terluka. Pasukan Wengker, maju terus pantang mundur!

Namun bagaimanapun, seluruh struktur kekuatan Wengker telah diketahui oleh Raden Bathara Katong. Pasukan Wengker, yang terkenal dengan nama Pasukan Warok itu terdesak hebat! Namun, Ki Ageng Kutu beserta seluruh pasukannya telah siap untuk mati. Pasukan ksatria ini terus merangsak maju, melawan pasukan Demak.

Demak akhirnya berhasil mengalahkan Wengker. Wilayah ini kemudian diberikan pada Bathara Katong sebagai adipati. Ki Ageng Mirah menjadi pemimpin spiritual di wilayah selatan.

Bathara Katong tetap menghormati Ranawijaya sebagai seorang Raja Majapahit di Daha, Kediri. Dia telah telah sukses menjalankan dua misi, sekali dayung dua pulau terlampaui.

Pertama dia telah berhasil menghilangkan kekuatan Ki Ageng Kutu yang menjadi ancaman bagi kelangsungan tahta Ranawijaya, sepupunya. Sebagai bentuk penghormatan bagi “mantan” rajanya itu, pusat pemerintahan di Ponorogo diberi nama Kelurahan Ranawijayan (Ronowijayan).

Kedua, meskipun sekarang harus masuk Islam dan menjadi bawahan Demak. Namun sekarang dia telah berhasil menjadi penguasa wilayah Kadipatenya sendiri, mengalahkan musuhnya Ki Ageng Kutu.

Kadipaten Wengker diubahnya menjadi Kadipaten Ponorogo pada tahun 1496 Masehi. Dan dia resmi bertahta menjadi seorang Adipati pertamanya.
Sedangkan bagi Demak, jatuhnya Wengker juga berarti hilangnya ancaman, karena Wengker anti Demak dengan kekuatan prajurit Warok yang menakutkan. Manfaat lainya, Wengker cukup dekat dengan Daha, Kediri yang menjadi Ibukota baru Majapahit.

Raden Fatah masih menyimpan dendam atas kematian Ayahnya Bhre Kertabhumi yang dibunuh Ranawijaya. Namun para Sunan Wali Songo masih terus mencegahnya menyerang Demak sebagaimana wasiat Sunan Ampel.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*