Sejarah Masjid Patok Negara, Masjid Nurul Huda Dongkelan

Di Dusun yang bernama Dongkelan terdapatlah sebuah bangunan Masjid Pathok Negara, yaitu sebuah Masjid KAGUNGAN DALEM Keraton Kasultanan Ngayogjokarto Hadiningrat.

Nama masjid itu adalah Masjid Nurul Huda Dongkelan atau Masjid Pathoknegoro Dongkelan.

Secara administratif Dusun Dongkelan terletak di Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul , Provinsi DIY.

Masjid Nurul Huda Dongkelan ini menurut informasi yang penulis dapatkan dibangun sekitar abad ke 18 Masehi , persisnya sekitar tahun 1775. Dibangun untuk menghormati seorang ulama kepercayaan dari Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengkubuwono I. Nama ulama ini adalah KYAI SYIHABUDIN atau SYEH ABUDDIN

Kyai Syihabudin sendiri adalah seorang ulama yang dimintai bantuan oleh Kanjeng Sri Sultan Hamengkubuwono I untuk menyelesaikan konflik dengan Pangeran Sambernyowo yang mempunyai gelar KANJENG GUSTI PANGERAN ADIPATI ARYO ( KGPAA ) MANGKUNEGARA I yang dalam hal ini Mangkunegara I adalah menantu dari Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Waktu itu memang ada konflik antara Sri Sultan Hamengkubuwono I dengan menantunya yaitu Mangkunegoro I, Tetapi sayangnya informasi yang didapatkan penulis kurang jelas hal apa yang mendasari terjadinya konflik ini.

Lalu Sri Sultan ingin mengalahkan menantunya tersebut tetapi tanpa merasa membunuhnya, maka Sultan Hamengkubuwono meminta bantuan Kyai Syihabudin dan menjanjikan posisi patih kepada Kyai Syihabuddin jika mampu mengalahkan Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegara I. Dengan janji yaitu mengangkat Kyai Syihabudin sebagai Patih.

Dan akhirnya Kyai Syihabuddin mampu menyelesaikan konflik antara Sultan Hamengkubuwono I dan Pangeran Sambernyowo tanpa melukai pangeran Sambernyowo.

Tetapi pada akhirnya Sri Sultan Hamengkubuwono I tidak bisa memenuhi janjinya untuk menjadikan Kyai Syihabuddin menjadi patih karena pada saat itu posisi tersebut telah ditempati Tumenggung Yudanegara. Tumenggung Yudanegara kabarnya adalah seorang Tumenggung yang sangat berpengaruh di lingkungan Keraton Ngayogjokarto Hadiningrat waktu itu.

Akhirnya dengan hal itu kecewalah ( Dongkol ) Kyai Syihabudin terhadap Sri Sultan Hamengkubuwono I. Dan nama Dongkelan sendiri kabarnya berasal dari Kata Dongkol ini.

Selang beberapa tahun atas sikap kecewanya kyai Syihabudin ini , Kyai Syihabudin meninggal dunia. Dan untuk menghormati jasa dari Kyai Sihabudin ini, Sri Sultan Hamengkubuwono I membangun sebuah masjid di wilayah Dongkelan yang masih satu area dengan kawasan makam dari Kyai Syihabudin . Hal ini bertujuan untuk menghormati jasa Kyai Syihabudin yang waktu itu juga telah ditetapkan menjadi Pejabat Pathok Negoro.

Dan sejak saat itu Masjid yang dibangun ini dinamakan Masjid Pathok Negoro Dongkelan atau Masjid Nurul Huda Dongkelan.

Sekarang Masjid Dongkelan kondisinya masih terawat dengan baik. Walaupun pada era perang Jawa atau Perang Diponegoro yang terjadi pada antara tahun 1825 sampai 1830 masjid ini pernah dibakar habis oleh Belanda.

Lalu pada sekitar tahun 1901 masjid ini kembali direnovasi oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VII.

Penulis : Albertus Suprayogi via FB Kerabat Keliling Jogja

Referensi :

– narasumber
– kratonjogja.id
– wikipedia.org

Photo : Albertus

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*