Sejarah Ketela, Dari Penjajah Untuk Pangan Warga Nusantara

Nasi Thiwul itu bukti betapa perhatianya penjajah pada warga Nusantara. Didatangkan pertama kali oleh Portugis di Maluku, lalu disebarkan luaskan oleh Belanda ke penjuru negeri.

Castilla didatangkan karena pertanian padi kurang maju, Orang Eropa tidak tahu cara bercocok tanam yg benar. Pertanian padi baru maju setelah Jepang datang.

Di tangan kreatifitas orang Jawa, Castilla jadi Telo terus dijadikan Getuk, Utri, Lindri, Ongol-ongol, Klepon, Cenil, Thiwul. Bahkan yang gagal produksi pun bisa dimakan jadi Gatot.

Era orde baru datang, makanan-makanan itu dipandang sebagai imej kemiskinan warisan penjajah. Padi dan beras digalakkan untuk dimakan 3 kali sehari.

1986 Indonesia bisa swasembada beras, Pak Harto diganjar award PBB. KFC dan McDonald juga ikutan jualan Nasi Putih dalam menunya.

50 tahun setelah Indonesia merdeka, 1995. Konsumsi beras meledak. Beban populasi 195juta penduduk tidak bisa dikasih makan dengan luas lahan pertanian yang ada. Impor jadi solusinya untuk mengisi perut warga.

1997 kurs rupiah anjlok, uang pemerintah gak cukup lagi untuk membayar biaya impor beras.
Beras jadi langka, reformasi jadi repotnasi. Pakistan mengirim beras basmati yang ternyata susah dikunyah di lidah orang Nusantara.

3 tahun kemudian, tahun 2000, terjadilah ledakan penyakit Diabetes. Ada 8,4 juta jiwa penderita.

Tahun 2010, pemerintah bikin kampanye One Day No Rice, Satu hari tanpa makan nasi.

Penduduk diajak lagi makan Tiwul, sego jagung, telo, Gatot dan aneka produk makanan berat lainya yang berbahan “Castello” bukan beras.

Pemerintah sudah kewalahan nalangin biaya subsidi beras, ditambah lagi kewalahan mbayarin biaya berobat warganya penderita diabetes lewat BPJS.

Yuk, kurangin makan beras

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*