Sejarah Gedung MPR DPR Yang Awalnya Untuk Menandingi PBB

Gedung DPR/MPR RI mulai dibangun saat masa kepemimpinan Presiden Sukarno, 8 Maret 1965. Bung Karno sapaan lainnya, menjadi pencetus pembangunan gedung untuk para wakil rakyat itu.

Kala itu, Bung Karno berencana menyelenggarakan Conference of the News Emerging Forces (CONEFO), yang merupakan wadah dari semua News Emerging Forces. Adapun beberapa anggotanya berasal dari berbagai negara, antara lain negara-negara di Asia, Afrika, Amerika Latin, negara-negara sosialis, negara-negara komunis, dan semua Progressive Forces dalam kapitalis.

Conefo lebih besar daripada Asian Relations Conference yang dulu pernah diadakan di New Delhi, lebih besar daripada Konferensi Asia Afrika di Bandung.

“Belum pernah di dalam sejarah pihak imperialis nanti menghadapi satu united front antiimperialis yang begitu besar seperti Conefo ini. United front anti imperialis yang begitu besar dari seluruh dunia, dari seluruh muka bumi,” tandas Bung Karno, 17 Agustus 1966 di Jakarta.

Sebelum pembangunannya, pemerintah sempat membuka sayembara untuk perancangan gedung tersebut. Sayembara diikuti oleh tiga perusahaan konsultan perencanaan dan satu perserta perseorangan.

Rancangan karya Soejoedi Wirjoatmodjo, seorang arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung pada masa itu pun akhirnya berhasil mendapatkan perhatian dari menteri PUT dan Soekarno. Selanjutnya perancangan tersebut ditetapkan dan disahkan pada 22 februari 1965. Arsitek gedung DPR Sujudi Wirjoatmodjo membuat kubah yang berbentuk setengah lingkaran di kedua sisi kanan dan kiri gedung, diibaratkan sebagai kepakan burung Garuda.

Kenapa warna hijau menjadi pilihan?
karena hijau merupakan simbol kemakmuran. Apalagi, saat itu Indonesia sangat kental dengan unsur agraris. “Kesuburan dan kemakmuran” makna dibalik warna hijau. Jadi warna itu yang dipilih.

8 Maret 1965, Bung Karno menugaskan Menteri Pekerjaan Umum & Tenaga, Mayjen Soeprayogi (Kabinet Dwikora I) untuk membangun Gedung Conefo, proyek political venues di Jakarta, melalui SK Presiden No 48/1965.

Setelah disayembarakan, tim dari Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik yang dipimpin Sujudi Wirjoatmodjo, arsitek jebolan Technische Universitat, Berlin Barat ditunjuk sebagai pelaksana.

19 April 1965. Bertepatan dengan perayaan dasawarsa Konferensi Asia Afrika, acara pemancangan tiang pertama pembangunan Gedung Conefo dihelat besar-besar.

“Saya berikan perintah kepada saudara Ir. Sutami untuk mempercepat pembangunan Gedung Conefo. Yang tadinya saya perintahkan pembangunan ini selesai pada 19 Agustus tahun ini saya perintahkan untuk dipercepat menjadi 31 Juli tahun ini,” kata Presiden Soekarno saat ramah tamah dengan karyawan Komando Proyek Conefo (Kopronef) di Istana Negara, Jakarta, 7 Februari 1966.

Gedung Kura-kura alias Gedung Parlemen RI yang berada di Kompleks Parlemen berdiri di atas lahan wakaf bekas lembaga pendidikan Islam yakni Madrasah Islamiyah yang merupakan cikal bakal lahirnya Pondok Pesantren Darunnajah.

Sumber:
1. https://nasional.kompas.com/read/2015/04/02/13184181/Sejarah.Gedung.Parlemen.yang.Jarang.Terungkap
2. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kompleks_Parlemen_Republik_Indonesia
3. https://www.era.id/read/nqU8eO-sejarah-gedung-dpr-antara-garuda-dan-kura-kura

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*