Sejarah Asal Mula Nama Kota Madiun

Ilustrasi Pangeran Timur mendapat perintah untuk membuka lahan di barat Gunung Wilis. 

Madiun adalah salah salah satu kota terbesar di Jawa Timur bagian barat. Kota ini telah banyak terlibat dalam berbagai catatan sejarah yang panjang.

Berbagai kerajaan telah tumbuh dan berkembang di wilayah Madiun. Mpu Sindok memindahkan kerajaan Mataram Kuno dari wilayah Yogyakarta setelah letusan Gunung Merapi ke wilayah Wotan yang sekarang adalah Kecamatan Jiwan, Madiun.

Keturunan Raja Kertajaya Kediri yang digulingkan oleh Ken Arok mendirikan Kerajaan Ngurawan yang sekarang situsnya ada di Kecamatan Dolopo, Madiun. Setelah cukup besar, Rajanya yang bernama Jayakatwang (cicit dari Kertajaya) menyerbu balik Kertanegara (cucu Ken Arok) untuk menggulingkan Singasari dan mendirikan lagi kerajaan Kediri.

Nama Madiun sendiri baru dikenal pada kerajaan Demak Bintoro. Saat itu rakyat banyak yang melarikan diri dari wilayah Majapahit karena kesemrawutan politik dan sosial di dalamnya mengungsi ke wilayah kerajaan Demak yang aman makmur sentosa.

Untuk menampung mereka, Kerajaan Demak membukakan sebuah hutan di lereng gunung Wilis dipimpin oleh Panembahan Ronggo Jumeno atau Pangeran Timur, untuk mendirikan desa yang baru. Dalam prosesnya, ternyata banyak sekali hantu di dalamnya yang berayun-ayun, yang dalam bahasa Jawa disebut Medi (hantu) ayun-ayun (berayun-ayun).

Dengan sebuah senjata keris buatan Empu Umyang, Panembahan Ronggo Jumeno berhasil mengusir para hantu tersebut dan memberi nama desa tersebut sebagai Wonoasri, yang artinya hutan yang damai. Sedangkan senjata keris yang berhasil mengalahkan hantu tersebut dijuluki sebagai Keris Tundhung Medhi Ayun, lambat laun disebut Tundhung Medhiun. Tundung artinya mengusir/pengusir.

Perubahan Nama Wonoasri menjadi Madiun
Sultan Trenggono adalah Sultan Demak ketiga, sekaligus juga yang terakhir. Beliau mangkat pada tahun 1546 di medan perang dalam usahanya menaklukkan daerah Pasuruan di Jawa Timur. Peristiwa tersebut membawa akibat timbulnya perang saudara antar keturunan daerah Demak untuk memperebutkan tahta kerajaan.

Sultan Prawata, putra sulung Sultan Trenggono gugur dalam perebutan tahta itu. Tinggallah Pangeran Hadiri dan Pangeran Adiwijaya. Keduanya sama-sama menantu dari Sultan Trenggono. Yang keluar sebagai pemenangnya adalah Pangeran Adiwijaya.

Atas restu Sunan Kudus, Pangeran Adiwijaya ditetapkan sebagai Sultan dan menetapkan Pajang sebagai pusat kerajaan. Bersamaan dengan penobatan Sultan Adiwijaya, dilantik pula adik ipar sultan, yaitu putra bungsu Sultan Trenggono yang bernama Pangeran Timur sebagai Bupati di Wonoasri.

Setelah Pangeran Adiwijaya mangkat karena usianya yang sudah tua, pusat pemerintahan berpindah ke Kerajaan Mataram yang didirikan oleh Danang Sutowijoyo atau yang lebih populer disebut Panembahan Senopati. Ia adalah putra sulung Pangeran Adiwijaya. Konon, Panembahan Senopati berwajah tampan, kemauannya keras dan pandai berperang. Sebagai seorang raja besar, Panembahan Senopati bercita-cita hendak menaklukkan para bupati di seluruh Tanah Jawa di bawah panji-panji Mataram.

Wilayah Wonoasri saat itu dipimpin oleh Pangeran Timur menolak tunduk pada Mataram mengubah nama Wonoasri menjadi Purbaya. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana. Rakyatnya aman dan makmur. Ia disenangi oleh para bupati di Jawa Timur. 

Beberapa bupati yang bersekutu dengan Pangeran Timur di Purabaya yang tidka tunduk pada kekuasaan Mataram adalah Surabaya, Ponorogo, Pasuruan, Kediri, Kedu, Brebek, Pakis, Kertosono, Ngrowo (Tulungagung), Blitar, Trenggalek, Tulung (Caruban), dan Jogorogo.

Panembahan Senopati pernah menyerang Purbaya dua kali, namun gagal. Dalam penyerangannya yang ketiga, Panembahan Senopati mengambil langkah-langkah yang menyangkut siasat dan strategi. Para prajurit dibekali dengan kemampuan dan keterampilan dalam mempergunakan senjata (keris, pedang, tombak, panah) dan ketangkasan menunggang kuda serta mengendalikan kuda.

Pasukan Panembahan Sneopati dibagi menjadi pasukan inti dan pasukan kelas dua. Untuk mengecoh lawan, pasukan kelas dua dilengkapi dengan segala atribut kebesaran perang: genderang, panji-panji, dan umbul-umbul. Pasukan ini tugasnya mengepung Purabaya dan datang dari arah yang berlawanan.

Dalam penyarangan yang dijalankan oleh Panembahan Senopati dibantu oleh dua orang penasihat ahli perang, yaitu Ki Juru Mertani dan Ki Panjawi.

Siasat pertama yang dijalankan oleh Panembahan Senopati adalah mengutus seorang istri/selirnya yang amat dikasihinya untuk berpura-pura tunduk pada pemerintahan Pangeran Timur di Purabaya. Tentulah Pangeran Timur bergirang hati. Diterimanya tanda tunduk dari Mataram.

Melihat peristiwa itu, beberapa bupati yang menjadi sekutu Purabaya lengkap dengan prajuritnya yang telah lama bersiaga di Purabaya mulai pulang ke daerah masing-masing. Kabupaten Purabaya dinyatakan dalam keadaan aman dan tenang oleh Pangeran Timur.

Dalam suasana seperti itu, prajurit sandi Mataram segera menghadap Panembahan Senopati di Mataram. Akhirnya dengan pertimbangan yang masak, Panembahan Senopati memimpin prajurit Mataram untuk menyerang Kabupaten Purabaya dari berbagai arah.

Mendapat serangan tiba-tiba dari Mataram, Raden Ayu Retno Jumilah segera mengangkat senjata memimpin para prajurit Purabaya untuk melawan prajurit Mataram, ia masih putri Pangeran Timur. Purabaya yang telah ditinggalkan oleh para sekutunya menghadapi serbuan Panembahan Senopati dipertahankan sepenuhnya oleh pasukan sendiri, itupun yang mereka lawan adalah pasukan kelas dua.

Tanpa mendapat perlawanan yang berarti, pasukan inti Mataram segera menyerbu pusat pertahanan terakhir yang berada di kompleks istana Kabupaten Purabaya. Pasukan pertama bertugas melindungi keluarga dan istana. Mereka bertempur dengan gagah berani melawan pasukan inti Mataram.

Pertempuran yang sangat sengit itu terjadi di sekitar sendang di dalam kompleks istana.

Kadipaten Purbaya akhirnya runtuh pada tahun 1590. Untuk mengenang peristiwa itu, Panembahan Senopati mengubah nama Purbaya menjadi Mediyun, sesuai dengan nama senjata yang dia rampas dari Purabaya, yaitu Keris Tundung Mediyun. 

Perang besar itu berakhir pada hari Jumat Legi tanggal 16 November 1590 Masehi, sekaligus ditandai sebagai penggantian nama Purabaya menjadi Madiun

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*