Saat Irak dan Suriah Hampir Jadi Satu Negara

Di tahun 1960-an, di awal pembentukan negara Republik Suriah dan Irak. Kedua negara punya hubungan mesra dan kesamaan ideologi,yaitu sosialis.

Ini bermula dari buntut Perang Arab-Israel 1967 sebagai poin permulaan hubungan Suriah-Irak, Partai Baath Irak mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada tahun 1968, kemudian di Suriah, Hafez al-Assad, anggota Partai Baath negara itu, merebut tampuk kekuasaan pada November 1970.

Dua Partai Baath ini punya kesama ideologi “sosialis” dan punya cita-cita menggabungkan seluruh Arab dalam satu negara lewat gerakan pan-arabisme.

Penyatuaan Suriah-Irak dimulai pada tahun 1978 ketika Presiden Irak Ahmed Hassan al-Bakr dan Hafez al-Assad telah menyetujui sebuah rencana dan mulai membuat perjanjian yang akan mengarah pada penyatuan Irak dan Suriah.

Pada bulan Oktober 1978, Presiden Irak Ahmed Hassan al-Bakr dan Presiden Suriah Assad mulai membahas pembentukan kesatuan kedua negara mereka yang akan menjalin hubungan ekonomi, politik dan militer yang lebih dekat yang akan lebih efektif menantang Israel di wilayah tersebut. Selanjutnya, sebuah komite bersama akan dibentuk untuk menetapkan formula pakta pertahanan bersama yang akan memberikan dasar bagi persatuan militer total antara kedua negara. Namun, sayangnya Saddam Hussein sebagai Wakil Sekretaris Partai Ba’ath Irak, yang takut kehilangan kekuasaannya kepada Assad (yang seharusnya menjadi Wakil pemimpin serikat baru), memaksa al-Bakr pensiun di bawah ancaman kekerasan.

Pembicaraan persatuan memang berlanjut antara Assad dan Saddam setelah Juli 1979, tetapi Assad menolak tuntutan Irak untuk merger penuh antara kedua negara dan untuk segera menempatkan pasukan Irak ke Suriah. Sebaliknya Assad, mungkin takut akan dominasi Irak dan perang baru dengan Israel, menganjurkan pendekatan langkah demi langkah. Pembicaraan persatuan akhirnya ditangguhkan tanpa batas waktu setelah dugaan penemuan rencana Suriah untuk menggulingkan Saddam Hussein pada November 1979.

Tak lama setelah berkuasa, Saddam mengaku telah diberitahu tentang komplotan melawannya, didukung oleh Suriah, dan kemudian ia membatalkan rencana penyatuan. Pada November 1979 kedua negara secara resmi menghentikan hubungan satu sama lain dan menarik misi diplomatik.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*