Saat 3000 Warga Jepang Melarikan Diri ke Filipina

Hal ini bermula selama diakhir era Sengoku Jepang, yaitu tahun 1580an awal, ketika negara itu dipimpin oleh Hideyoshi Toyotomi. Dia sangat kahwatir atas perkembangan negara negara Eropa di Asia Timur, ditambah ia juga mengetahui banyak negara disekitar Jepang menjadi “Terjajah” akibat kedatangan bangsa Eropa.

Kekahwatiran ini juga secara otomatis membuat Hideyoshi mencurigai para misionaris atas penyebaran Katolik Roma di Jepang, sehingga Ia berusaha untuk mengekang Katolik.

Pada 1587, Hiyedoshi mendapat laporan bahwa terjadi pemindahan Agama secara paksa ke Katolik di Nagasaki, dan mereka ada banyak dijadikan budak, hal ini diperparah adanya kejadian penyembelihan lembu dan kuda untuk dimakan.

Hal ini membuat Hideyoshi murka yang menganggap itu adalah penghinaan terhadap Buddha, pada 24 Juli 1587 Hideyoshi mengeluarkan Dekrit “bateren tsuihō rei”.

Hal ini berlanjut pada tahun 1615, ketika Jepang dipimpin oleh Shōgun Ieyasu Tokugawa, seperti Hideyoshi Toyotomi, Ieyasu sangat tidak menyukai Katolik yang dianggap memiliki ambisi teritorial dibalik penyebaran Agama.

Hal ini benar, ketika utusan Raja Spanyol yaitu grup ordo religius Gereja Katolik Fransiskan dikirim ke Jepang dan menemui Ieyasu, disana grup Fransiskan atas nama Raja Spanyol meminta sebuah tanah untuk membangun benteng Spanyol.

Ieyasu yang tidak bodoh, ia belajar dari banyak negara disekitarnya memutuskan menolak memberi celah terhadap bangsa Eropa untuk memiliki tanah di Jepang dan ditahun yang sama ia melarang Agama Katolik.

Ieyasu kahwatir jika Spanyol akan menginvansi Jepang sama seperti di Dunia Baru dan Filipina, di tahun 1600an Keshōgunan Tokugawa mengusir warga Jepang beragama Katolik, membunuh para misionaris dan setiap orang harus menunjukan sertifikat afiliasi dengan kuil Buddha.

Ditahun 1615, sebanyak 300 Samurai yang diantaranya adalah “Mantan” Daimyō bernama Takayama Ukon melarikan diri ke Manila, Filipina Spanyol, hingga tahun 1620 total sebanyak 3.000 Katolik Jepang melarikan diri ke Filipina yang saat itu menjadi koloni Spanyol.

Sumber :

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Dom_Justo_Takayama

https://www.cbcj.catholic.jp/

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*