Saad bin Muaz, Sahabat Yang Wafat Di Pangkuan Nabi

Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang banyak dibicarakan di kalangan sahabat dan tabiin adalah Saad Bin Muaz.

Saad adalah satu-satunya sahabat yang meninggal di pangkuan Nabi, dengan gelar syahid dan dituntun langsung oleh Nabi saat sakaratul maut. Siapa coba yang tidak ngiri, jannah adalah jaminanya.

Nama lengkapnya Saad bin Muaz bin Nukman asal Madinah. Berasal dari suku Aus, seorang pemuda yang wibawanya disegani di Madinah. Pembesar bagi kaumnya. Dia ikut dalam baiat Akabah I dan baiat Akabah II. Setiap keputusanya, tidak pernah dibantah oleh siapa pun di Madinah, baik kaumnya atau bukan.

Saad wafat di usia yang masih sangat muda, 31 tahun di pangkuan Baginda Nabi.

Kisah Masuk Islamnya

Nabi Muhammad mengutus Mush’ab bin Umair, berdakwah di Yatsrib (Madinah) dan berhasil mengajak beberapa orang untuk beriman. Sa’ad yang menjadi pemimpin Suku Auf pun curiga dengan dakwan ini. Ia langsung memerintahkan sahabat karibnya, Usaid bin Hudhair, untuk menemui Mush’ab.

Setelah bertemu, Usaid ternyata malah masuk Islam. Dia mengajak Mush’ab untuk bertemu Sa’ad.

Sa’ad yang digambarkan Nabi sebagai pemuda yang gagah perkasa ini jadi marah saat Usaid menghadap dirinya dan melaporkan keislamanya, terlebih ada si Mush’ab yang dituduhnya membawa agama baru.

Sebuah tombak dia cabut dan ditancapkanya di hadapan Usaid.

Mush’ab mencoba meredam emosi Sa’ad dan berkata, “Bagaimana jika engkau duduk dan mendengar apa yang aku sampaikan? Jika engkau suka, engkau bisa menerimanya. Dan jika engkau tidak suka, maka kami akan pergi jauh darimu.”

“Baik, cukup adil” kata Sa’ad, sembari mencabut tombaknya, dan duduk bersama keduanya.

Mush’ab menjelaskan Islam kepadanya dan membacakan Alquran dari permulaan surat Az-Zukhruf. Hati Sa’ad terbuka, hidaya Islam masuk ke dalamnya.

Setelah masuk Islam, Sa’ad mengumpulkan kaumnya di hadapan mereka, ia berkata, “Wahai Bani Abdul Asyhal, apa pendapat kalian tentang diriku?”

Mereka menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami, kami ikuti pendapatmu dan kamu orang yang paling kami percaya.”

Sa’ad melanjutkan, “Tak seorang pun diantara kalian, baik laki-laki maupun wanita berbicara denganku sebelum kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Selanjutnya, seluruh kaumnya (Bani Abdul Ayshal dari suku Quraisy) masuk Islam sebelum petang.

Menjadi Pembela Nabi
Di Madinah, Nabi Muhammad adalah seorang imigran, seorang pendatang yang tidak punya sokongan kaum.

Di sinilah peran penting Sa’ad, dia dan kaumnya adalah penyokong utama setiap kebijakan Nabi Muhammad. Terutama dari hasutan kaum munafik.

Saat perang Badar dan Uhud, banyak orang di Madinah yang enggan bertempur di bawah perintah Nabi. Karena menganggap bahwa perang itu adalah urusan internal kaum Quraisy di Mekkah. Terutama karena hasutan Abddulah bin Ubay tokoh kaum munafik, mengaku Islam tapi selalu menolak jika diperintah Nabi.

Sa’ad dan Kaumnya dari Suku Auf selalu tampil yang terdepan membela Nabi. Merekalah kaum yang diceritakan dalam al-Quran surat 51,52 dan 53.

Saat Abdullah bin Ubay dan kaumnya lebih memilih bersekutu dengan kaum Yahudi karena selama ini lebih menguntungkan dibanding bersekutu dengan Nabi. Maka Saad dan Suku Auf langsung memutuskan persekutuan dengan orang-orang Yahudi di Madinah, bertekad bulat hanya bersekutu dengan Nabi saja.

Ditunjuk Nabi Jadi Hakim
Saat perang Khandak, ketika Madinah dikepung dari depan oleh Kaum Quraisy dan sekutunya. Serta ditikam dari belakang oleh orang Yahudi dari Kaum Bani Quraidzah. Sa’ad terkena anak panah.

Nabi memerintahkan agar Sa’ad dirawat di masjidnya. Diberikanya tenda yang khusus untuk menaunginya.

Saat suku Quraisy dan sekutunya menyerah, membubarkan diri dari pengepungan kota Madinah. Nabi langsung mengepung perkampungan Bani Quraidzah untuk memberi hukuman.

Setelah mereka menyerah, keputusanya dipercayakan pada Sa’ad yang sedang terluka. Bani Quraidzah adalah sekutu bagi Bani Abdul Asyhal yang dipimpin Sa’ad.

Di tengah rasa sakit karena luka yang terus memburuk, Sa’ad berdoa , “Ya Allah, janganlah Engkau cabut nyawaku, sampai aku menyelesaikan urusanku dengan Bani Quraidzah.”

Sa’ad memutuskan, agar para pria yang ikut menyerang pasukan muslimin dari belakang saat perang Khandaq, dihukum mati. Hartanya dirampas dan anak istrinya sebagai tawanan perang.

Keputusan itu diterima semua pihak. Pada masa itu, hukum di Arab lebih tegas lagi, bilamana ada suatu kaum yang berkhianat atau menyerang sekutunya saat diserang oleh kaum lainya. Maka hukumanya adalah hukuman mati semua anggota kaum tersebut, baik pria, wanita atau anak-anak.

Akhir Hayat Yang Dirindukan
3 hari setelah memberi keputusan, Nabi Muhammad mendapat kabar dari Malaikat bahwa Sa’ad bin Muadz sudah mendekati ajalnya. Beliau pun menjenguk Sa’ad ditendanya.

Rasulullah meletakkan kepala Sa’ad pangkuanya, ingin meringankan sakitnya sakaratul maut.

Sa’ad benar-benar bahagia karena di hari terakhir yang dilihatnya adalah wajah Rasulullah yang mulia. Ia pun mengucap salam dan syahadat
“Assalamu’alaika, ya Rasulullah. Ketahuilah bahwa saya mengakui bahwa Anda adalah Rasulullah.”

Rasulullah memandang wajah Sa’ad lalu berkata, “Kebahagiaan bagimu, wahai Abu Amr!”

Dan Sa’ad akhirnya meninggal karena lukanya di perang Khandaq, dia pun berhak atas gelar Syahid. Rasulullah SAW pun bersabda, “Sungguh, kematian Sa’ad telah membuat Arys Allah terguncang.”

Sangat indah sekali kematian Sa’ad ini. Syahid di pangkuan Nabi Muhammad dan mendapat kesaksian langsung darinya.

Semoga kita semua bisa Khusnul Khatimah, amiin.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*