Raden Ayu Yudakusuma, Putri Sultan Jogja Pembantai Warga China di Ngawi

Hubungan kraton Yogyakarta dengan warga etnis China dalam sejarah memang tidak akur. Bahkan sampai sekarang, warga etnis China tidak diizinkan memiliki hak milih atas tanah di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sejarah permusuhan itu sudah ada sejak awal mula Kasultanan Ngayogyakarta. Salah satunya adalah pembantaian besar warga etnis China di Ngawi oleh Raden Ayu Yudakusuma, putri Sultan Hamengkubuwono I. Pada 23 September 1825.

Dalam catatan kolonial Belanda, hampir 10.000 orang tewas atas agresi tersebut.

Profil Raden Ayu Yudakusuma.

Raden Ayu Yudakusuma (RA. Yuda) adalah putri dari Sultan Hamengkubuwono I (HB I), sang pendiri Jogja. Ibunya adalah Raden Ayu Srenggoro putri dri Adipati Kedu, statusnya adalah selir, istri ke-5 HB I.

RA. Yuda lahir pada 1787. Usianya sepantaran dengan Pangeran Diponegoro yang lahir tahun 1785.

Jogja sendiri saat itu dibawah kendali Inggris. Setelah Hamengkubowono I wafat tahun 1792, Hamengkubowono II yang naik tahta ditangkap oleh Inggris dan dibuang ke Pulau Penang tahun 1812 lalu digantikan adiknya Hamengkubowono III.

HB II dan HB III adalah saudara satu ayah (HB I) dengan RA. Yuda. Sedangkan Pangeran Diponegoro adalah putra HB III dari selir.

Penyebab Pembantaian Etnis China di Ngawi.

Ngawi pada tahun 1700-1800an adalah bandar penting di tepi Bengawan Solo dengan komoditas utama Padi.

Tahun 1820, RA. Yuda dipersunting oleh Tumenggung Wirosari, Adipati Ngawi. Awalnya, hubungan RA. Yuda berlangsung normal dengan etnis China di Ngawi yang menguasai bandar dan perdagangan.

Orang China dipercaya oleh Belanda sebagai petugas pemungut pajak, atau petugas yang berjaga di jalan-jalan utama, jembatan, bandar dagang atau pelabuhan di dermaga maupun di sungai-sungai, hingga di pasar-pasar.

Pejabat kasunanan Surakarta juga akhirnya ikut memanfaatkan etnis China untuk memungut pajak. Meskipun Ngawi diklaim milik Jogja, namun karena lokasinya yang lebih dekat ke Surakarta, kekuasaan tetap dibawah Surakarta.

Mulailah bermunculan para pemungut pajak yang bertindak sewenang-wenang tanpa rasa takut, karena mereka mendapatkan perlindungan hukum dari raja, sultan, pejabat lokal, juga pemerintah Belanda. Kedudukan mereka baru dapat diganti jika memperoleh persetujuan dari kompeni.

Warga Ngawi makin menderita. Mereka mulai melawan, tapi situasi semakin memanas setelah pemungut pajak etnis China mulai membentuk pasukan pengawal khusus dan bertindak selayaknya pejabat yang mahakuasa.

RA. Yuda lalu meminta pasukan kavaleri dari Keraton Jogja untuk menghajar Etnis China di Ngawi. Dia menjanjikan, bahwa setelah masalah ini, Ngawi akan tunduk pada Jogja bukan Solo lagi.

Untuk menghadapi serbuan pasukan kavaleri itu, orang-orang China setempat sudah berusaha membangun pertahanan, akan tetapi serangan yang mereka hadapi ternyata dahsyat.

Hanya saja, para serdadu Jawa itu tidak pandang bulu dalam menjalankan tugasnya. Setiap orang keturunan Cina, tidak peduli siapa dan apa profesinya, termasuk wanita dan anak-anak, yang mereka temukan pasti dihabisi, tanpa terkecuali. Pihak kolonial memperkirakan ada 10.000 korban jiwa.

Daftar jumlah korban jiwa pembantaian di Nusantara. Gambar: Dutch Docu.

Serangan Raden Ayu Yudakusuma ini lalu disusul deklarasi perang oleh Pangeran Diponegoro terhadap penjajahan Belanda dan semua antek-anteknya. Membuat catatan sejarah tentang pembantaian Ngawi ini terabaikan karena ada perang yang lebih besar.

2 Komentar

Tinggalkan Balasan ke admin Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*