RA Majang Koro, Profil Kacung Belanda Asal Madura Yang Berjasa Besar Dalam Penjajahan

Prolog: Ini adalah salah satu contoh politik adu domba Belanda selama menjajah Nusantara.

Salah satu tokoh asal Madura yang berjasa besar untuk Belanda adalah Raden Ario Majang Koro. Seorang perwira KNIL (Tentara Penjajah Belanda) dari Bangkalan, Madura. Lahir tahun 1832 dan tewas pada 29 September, 1906.

Selama bertugas di KNIL, dia membawahi brigade “Barisan Bangkalan” (Barisan Van Madoera). Atas segala jasa-jasanya menjadi kacong penjajah, Belanda memberinya medali kehormatan Ridder Militaire Willems Orde Vierde Klasse, tingkat empat, atas jasanya dalam berbagai perang penaklukan di Nusantara.

Karir Majang Koro dimulai pada 15 Agustus 1848 sebagai sukarelawan tentara dengan nama Kaboen Surabaya di bawah KNIL , dipromosikan menjadi Kopral pada 16 Januari 1850 dan Sersan pada tanggal 25 Juni 1850.

Nama Majang Koro moncer saat sukses besar memimpin pasukanya dalam penaklukan Pulau Bali tahun 1846. Setelah itu dikembalikan berdinas di Pulau Madura. Pada 3 Juni 1859 dia ditugaska ke Korps Barisan Madura, pasukan KNIL yang 100% anggotanya suku Madura.

Saat penjajah Belanda akan menyerang Aceh. Pangkatnya dinaikkan jadi Ajudan Letnan. Pada 20 Juli 1871 dinaikka jadi Kapten dan setahun kemudian, 20 Juli 1872, dinaikkan lagi jadi Mayor. Lalu pada 1873 dia memimpin Barisan Madura KNIL dengan kekuatan 10.000 pasukan menyerang Aceh dibawah bendera Penjajah Belanda.

Selama perang Aceh. Pasukan Madura pimpinanya terkenal paling berani dan beringas, dan paling banyak sukses memukul pasukan Aceh. Jasa terbesarnya, saat berhasil membunuh Panglima Polem VII Sri Imam Muda Mahmud Arifin, kakek dari Panglima Polim.

Prajurit dari Korps Barisan Madura KNIL

Atas jasa-jasanya pada penjajah, Majang Koro dipromosikan menjadi Letnan Kolonel pada 1 April 1881 dan diangkat menjadi Komandan Korps selama perang Aceh.

Tahun 1893 dia ditarik dari Aceh lalu , dia dikirim untuk menaklukan Lombok pada 1894. R.A Mojong Koro atas segala jasa-jasanya dianugerahi penghargaan tertinggi Ridder Willems-Orde dengan pangkat kolonel tituler, pada 20 Agustus 1901.

Karir Majang Moro selama menjadi kacung penjajah Belanda:

1848 : Masuk menjadi serdadu KNIL
1849 : Penaklukan Bali
1850 : Pemadaman perjuangan rakyat Palembang
1851-1854 : Pemadaman perjuangan Orang Tionghoa di Borneo
1873-1893 : Penaklukan Aceh
1894-1895 : Penaklukan Lombok

Sebagai bukti tanda setianya, penjajah Belanda memberinya Medali Perak sepulang dari Palembang. Dan untuk jasanya membantu menaklukan Aceh, Belanda memberinya Medali Aceh, Medali Militaire Willemsorde de klasse dan sebuah pedang betuliskan “Berani Betoel.”

Pulang dari Lombok (1895) dia mendapat medali Lombokkruis dan Officier in de Orde van Oranje Nassau. Tahun 1898 dianugerahkan gelar “Ario”. Tahun 1904 pensiun dengan gelar Kolonel.

26 September 1906, kacung penjajah ini tewas karena usia di Madura. Belanda membangun nisan yang di atas kuburanya.

Sumber: Majalah Pandji Poestaka, No. 29-30 TAHOEN IV, 13 April 1926: 649-650

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*