Prasasti Mbah Krapyak, Bukti Penting Sejarah Kerajaan Wengker Ponorogo Yang Terbengkalai

Prasasti Mbah Krapyak Ponorogo. Foto: Merdeka.com

Ponorogo adalah tanah yang penuh sejarah, daerah yang dulu bernama Wengker ini adalah Kawah Candradimuka dalam dunia nyata, sejak zaman kerajaan Nusantara sampai Indonesia Merdeka.

Pada masa Mataram Kuno, Airlangga bersama Mpu Narotama melarikan diri ke Giriwana, wilayah barat Wengker, untuk menyelamatkan diri setelah kerajaan mertuanya itu, diserang oleh Sriwijaya ketika sedang ngunduh mantu dirinya.

Selama pelarianya di Giriwana, Airlangga meninggalkan prasasti Watu Dukun di Desa Pagerukir, Kecamatan Sampung, Ponorogo. Airlangga bersama Mpu Narotama juga menciptakan kesenian Reyog untuk melakukan konsolidasi kekuatan untuk merebut lagi kemerdekaan tanah Jawa dari Sriwijaya.

Berkelana dari satu desa ke desa, merayu para warok (ksatriya Wengker) dan rakyat Wengker untuk mau membantunya menegakkan kembali kekuasaan Dinasti Sanjaya. Selama pelarian, dirinya dijuluki Prabu Kelana Sewandono, sedangkan Mpu Narotama menjadi Bujang Ganong.

Usahanya berhasil!

Prasati Watu Dukun peninggalan Airlangga dan Mpu Narotama

Di masa Mataram Islam, lagi-lagi nama Wengker disebut, meski sudah berganti jadi Ponorogo. Berkat bantuan Kiai Ageng Besari dari Pondok Tegalsari, Sunan Pakubuwono II berhasil merebut kembali tahta Mataram yang sempat direbut oleh kaum pemberontak kaum pecinan.

Dari Tegalsari juga, lahirlah sosok sang Raja Jawa tanpa Mahkota, HOS Cokroaminoto yang menjadi guru bagi para pejuang kemerdekaan seperti Ir. Soekarno, Semaoun, Alimin, Musso, Tan Malaka dll.

Berkat jasa orang Ponorogo bernama HOS Cokroaminoto, lahirlah gerakan nasionalisme Indonesia.

Dari rahim Tegalsari pula, lahirlah pondok pesantren Gontor dan Tebuireng Jombang. Dari kedua pesantren tersebut muncullah tokoh-tokoh kaliber nasional.

Sayangnya sejarah panjang bumi Wengker Ponorogo tidak disertai dengan perhatian dari pemerintah setempat. Berbagai prasati sejarah tentang Ponorogo, nasibnya sangat mengenaskan.

Sebuah prasasti dengan gaya tulisan Kediri Kwadrat yang menceritakan tentang perjalanan sejarah Kerajaan Kediri di era Panjalu sekitar abad X-XI, ditemukan di Dukuh Ngrenak Desa Ketro Kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo.

Kondisi prasasti yang diukir di batu andesit hitam dengan tinggi 120 cm, lebar 70 cm dan tebal 17 cm itu sangat memprihatinkan, nyaris tidak ada perhatian dari pemerintah setempat. Oleh warga sekitar, tempat penemuan prasasti ini sangat dikeramatkan masyarakat menyebutnya watu tulis ‘Mbah Krapyak’.

“Berdasarkan penelusuran kami dan dari berbagai keterangan, dahulu tempat batu berinskripsi di atas jalan sawah di tepi sungai desa. Namun karena abrasi pinggir sungai, maka sekarang batu berinskripsi tersebut jatuh di tengah sungai. Selama beberapa tahun, lokasi batu ini tertimbun pohon bambu yang roboh melintang dari seberang sungai,” kata Novi Bahrul Munib, arkeolog asal Kediri yang juga menjadi Pamong Budaya Non PNS Kabupaten Sumenep seperti merdeka.com di Kediri, Minggu (25/8).

Novi yang juga aktivis Pasak (Pelestari Sejarah dan Budaya Kediri) ini akhirnya melakukan penelusuran. Sebab kondisi prasasti tersebut terbengkalai serta terguling di tengah Sungai Desa Ketro, dan terancam proyek saluran irigasi desa yang akan dimulai pelaksanaannya pada akhir Agustus 2013 ini.

“Tulisan tertutup lumut yang membuat karakter aksara sulit dibaca, dan harus dibersihkan terlebih dahulu dari lumut kerak,” tambahnya.

Masih menurut Novi, melihat model pengukiran aksara dalam prasasti menggunakan gaya Kediri Kwadrat, sehingga memiliki gaya yang umum digunakan sekitara Abad X-XI Masehi.

“Prasasti ini memiliki arti khusus, terutama untuk mengungkap masa pemerintahan Çri Maharaja Çri Bameçwara Sakalabuanatustikarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa dari Kerajaan Panjalu pasca Raja Airlangga. Maupun mengungkap keberadaan pemerintahan di sekitar lereng Gunung Wilis sebelah barat, dimana Ponorogo dipercaya pernah sebagai pusat Ibu Kota Kerajaan Wengker,” jelasnya.

Lokasi prasasti di Kecamatan Sawoo, tidak jauh dari lokasi temuan Prasasti Sirahketeng dari masa Sri Maharaja Djigjayasastraprabu di Kecamatan Sambit.

“Semakin menarik untuk kajian sejarah kuno. Dimana diketahui saat Kerajaan Panjalu masih eksis, di wilayah Ponorogo pernah berdiri kerajaan lain pula. Sehingga diharapkan dengan temuan prasasti ini mampu memberi tambahan referensi untuk mengkaji sejarah sekitar abad XI,” tambahnya.

Novi berharap, prasasti berangka tahun 1055 Saka ini segera diselamatkan, selain penting prasasti ini juga memenuhi syarat Kriteria Cagar Budaya sesuai Pasal 5 poin “a”. UU Cagar Budaya No.11 Tahun 2010 (Pasal 5-10).

Menurut Novi, tahun 1055 Saka (sekitar 1133 M) merupakan masa pemerintahan Çri Maharaja Çri Bameçwara Sakalabuanatustikarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa. Pada masa itu belum ditemukan data adanya kerajaan ataupun penguasa lain yang memerintah di Jawa bagian timur.

Ponorogo seharusnya memiliki sebuah museum besar tentang sejarah panjang wilayah ini dalam membangun Nusantara.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*