Pak Soerjo Gubernur Pertama Jatim Dibunuh PKI Dengan Sadis Tahun 1948

Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo atau dikenal sebagai Gubernur Soerjo adalah pejabat Gubernur pertama provinsi Jawa Timur. Namanya menjadi harum karena menjadi martir dalam pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 bersama dua orang Polisi yang menemaninya.

Selama era perang kemerdakaan, Soerjo punya peran penting disamping Bung Tomo dalam menggelorakan perang dahsyat melawan Inggris dalam palagan 10 November 1945 di Surabaya.

Dia menjadi negosiator dengan pihak Inggris dan orang terakhir yang meninggalkan Kota Surabaya dan memindahkan pusat pemerintahan provinsi Jawa Timur ke Mojokerto selama masa perang revolusi. Dia menjabat Gubernur dari tahun 1945-1947.

Perannya luar biasa dalam menjaga kemerdekaan NKRI. Namun nahas, dia meninggal di tangan putra sesama bangsa-nya sendiri. Bukan musuh asing dari negara lain.

Menurut banyak kesaksian warga, Gubernur Soerjo dieksekusi atas perintah langsung dari Amir Syarifudin, mantan Perdana Menteri era Presiden Soekarno yang memimpin pemberontakan PKI dengan Musso.

Saat dibunuh PKI tahun 1948, Pak Soerjo sudah tidak menjabat Gubernur Jawa Timur lagi, dia bertugas di pemerintahan Republik Indonesia di Jogjakarta. Saat itu dia hendak melayat adiknya yang tewas dibunuh PKI, sebenarnya banyak pejabat Republik yang menahanya agar menunggu sampai pemberontakan PKI reda dulu.

Pak Soerjo tetap nekad berangkat dengan ditemani dua personel polisi, Komisaris Besar Doeryat dan Komisaris Polisi Soeroko.

Pasukan dan anggota PKI yang mendapat kabar bahwa ada pejabat dari Ibukota Jogja yang akan menyambangi Madiun pun menghadang mereka.

Himawan Soetanto dalam buku Madiun: Dari Republik ke Republik (2006: 181) mengisahkan bahwa pada 9 November 1948 ada pergerakan pasukan dari arah Lawu menuju utara, menyeberangi jalan poros itu. Warga desa Plang Lor terheran-heran melihat banyaknya rombongan pasukan. Ada yang berseragam militer, ada juga yang berpakaian hitam seperti warok (pendekar Ponorogo).

“Tiba-tiba dari arah barat meluncur suatu mobil sedan berwarna hitam. Dari mobil itu keluar tiga orang yang langsung ditodong dengan senapan, dilucuti dan diseret beramai-ramai,” aku Kromo Astro, seorang kamitua Prang Lor, seperti dicatat dalam Lubang-lubang Pembantaian: Petualangan PKI di Madiun (1990: 156-157).

Para pengepung meyakini bahwa mereka adalah pejabat tinggi negara dari Yogyakarta. “Wah, ini pembesar yang kerjanya makan enak tidur enak,” teriak orang-orang PKI.

Para pengepung kemudian berteriak-teriak memanggil “Pak Amir” yaitu Amir Sjarifoedin, mantan Perdana Menteri yang dicopot Presiden Soekarno karena dinilai gagal dalam perundingan damai Renville.

“Pak Amir memerintahkan agar ketiga orang itu dibunuh di saja di hutan yang lebih jauh. Ketiga orang itu kemudian diarak beramai-ramai ke dalam hutan sambil terus disoraki dan dicaci maki,” aku Kromo Astro.

Di lokasi tempat eksekusi ketiganya kemudian dibangun monumen pada 14 Juli 1973. Untuk mengenang kekejaman PKI.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*