Misteri Pembantaian Ninja 1998 Di Banyuwangi dan Jawa Timur

Di sebuah Desa Gintangan, Rogojampi, Banyuwangi, ada seorang kakek tua bernama Tapsir. Umurnya sudah 70 tahun. Dia tinggal bersama istrinya, Miswa. Kehidupan mereka sangat sederhana, hanya menempati sebuah rumah kecil yang berada di tengah sawah. Mereka baru saja pindah dari Desa Kautan, sebab dituduh sebagai keluarga tukang sihir.

Setelah beberapa hari tinggal di rumah barunya itu, pada malam 1 September 1998, sebuah peristiwa genting menimpa keluarga mereka. Dari luar gubuk kecilnya yang tanpa lampu itu, ada seseorang memanggil Tapsir. “Mbah, nyelang coret,” kata orang dari luar itu. Saat itu, Tapsir dan istrinya sedang makan malam. Tafsir ‘pun akhirnya keluar.

Karena sudah curiga, Tafsir menuju pintu sembari membawa tongkat. Ketika pintu sudah dibuka, dia langsung memukul orang yang berada di depan pintu itu. Tak lama, Tafsir langsung dikroyok banyak orang dan badannya diseret sepanjang 50 meter menuju jalan raya Desa Gintangan. Tafsir tewas dibunuh orang-orang misterius akibat dituduh sebagai tukang santet.

Peristiwa semacam ini, pembunuhan misterius terhadap para tukang santet sering terjadi di Banyuwangi sepanjang tahun 1998. Awalnya hanya terjadi di tiga tempat, Kecamatan Rogojampi, Glagah dan Kabat: tiga wilayah di Kabupaten Banyuwangi yang diduga kuat sebagai basis ilmu-limu santet. Namun kemudian menyebar ke berbagai wilayah lain seperti Bedewang, Pakis, Genteng, Bangorejo, dan Benculuk (

Laporan Sementara Kasus Santet Banyuwangi-Kesaksian Tragedi Banyuwangi. Tim Pencari Fakta, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jatim. November 1998).
Kasus yang terjadi di bulan Juli memakan korban hanya kisaran 5 orang. Di bulan berikutnya, Agustus meningkat menjadi 47 kasus dan dua kali lipat meningkat kembali pada bulan September, yakni 80 kasus. Kasus-kasus pembunuhan misterius semacam ini pada bulan-bulan berikutnya ternyata tak hanya terjadi di Banyuwangi. Berbagai kota ikut menyusul. Sempat juga terjadi di Jember, Pasuruan, Situbondo, Bondowoso, dan di tiga kabupaten di Madura, yakni Sumenep, Sampang, dan Pamekasan.

Berdasarkan data yang diperoleh Tim Pencari Fakta NU dan Polisi, jumlah korban tewas yang ditemukan pada masing-masing kota itu, bila diakumulasi semuanya ada 253 orang. Yakni, 143 orang di 18 kecamatan di Banyuwangi; 55 orang di 14 kecamatan di Jember; 11 orang di Pasuruan; 2 orang di Sitobondo; 3 orang di Bondowoso; 23 orang di Sumenep; 6 orang di Sampang; dan 5 orang di Pamekasan.

Di antara banyaknya jumlah korban itu, di dalamnya terdapat orang-orang NU yang sebagian di antara mereka berlatarbelakang guru ngaji. Salah satunya seperti korban di Banyuwangi.

Di antara 143 orang, 83 orang di dalamnya adalah warga NU. Mendapatkan berita tersebut, banyak para kyai akhirnya merapatkan barisan. Isu ‘pun berkembang, dari yang awalnya hanya “pembunuhan terhadap tukang santet”, menjadi isu baru, yakni “adanya ninja” yang targetnya bukan hanya tukang santet, melainkan juga para kyai.

Disebut ninja karena diyakini oleh masyarakat sebagai pembunuh yang handal, menggunakan seragam Shinobi Jepang (berpakain hitam, muka tertutup, dan lengkap dengan pedang katana Samurai), bergerak cepat, dan bahkan diyakini bisa menghilang dan berubah menjadi hewan. Keyakinan masyarakat waktu itu tentang para pembunuh itu sudah bergulir menjadi cerita-cerita mitos yang susah dibuktikan. Tapi cerita itu, benar-benar pernah diyakini oleh masyarakat.

Media-media yang turut meliput kejadian saat itu juga ikut menggunakan kosa kata “ninja” dalam judul beritanya. Salah satunya adalah Koran Surya. Koran itu meliput gerakan warga NU di Lamongan dan menerbitkan beritanya pada 17 Oktober 1998, dengan judul, “NU Bentuk 1.000 Pos Antisipsi Ninja”. Sehari sebelumnya, 16 Oktober, koran tersebut malah meluncurkan berita yang tak kalah heboh, “Pemburuan Ninja Makin Marak”. Pada bulan itu juga, sekitar tanggal 14, 2000 pimpinan pondok pesantren mengadakan rapat di Tuban. Dalam pertemuan itu, mereka membentuk pasukan anti-ninja (Fokus, Pasukan Anti-Ninja).

Akhirnya, situasi saat itu semakin runyam. Banyaknya korban yang berjatuhan dan isu “ninja” yang terus digulirkan menyita perhatian berbagai media nasional. Kasus-kasus itu menjadi trending topic dan viral. Sehingga tak lagi hanya menjadi kasus lokal.

Pada akhir Oktober 1998, Polri ‘pun ikut membentuk Tim Anti-Ninja. Masyarakat ‘pun semakin histeria, terutama yang berada di Jawa Timur. Begitu takutnya sama ninja, masyarakat Jawa Timur mencurigai setiap pendatang asing. Di Malang, 24 Oktober pernah terjadi kasus mengerikan tepatnya di Kecamatan Godanglegi. Hari itu, ada lima orang asing yang datang ke kecamatan itu. Karena dicurigai ninja, akhirnya lima orang itu dibantai massa. Di antara kelimanya, ada yang dibakar, dipenggal, dan lalu diarak mengelilingi kota. Padahal, kelima orang itu identitas sebenarnya belum diketahui.

Selain isu “ninja” yang pernah juga mencuat ke permukaan adalah isu tentang “orang gila”. Masih pada bulan Oktober, di Kecamatan Genteng, Banyuwangi. Warga di sana berhasil menangkap orang yang disebut ninja. Mereka menyerahkan orang itu ke kantor polisi. Tapi, kata Agus Supartomo, Ketua Tim Investigasi KOMPAK Surabaya, “di kantor polisi, orangnya berubah menjadi tua, dan cengar-cengir berlagak gila”. Padahal sebelumnya, orang yang ditangkap itu masih muda dan berbadan besar.

Berawal dari sini, masyarakat mulai curiga terhadap aparat. Bahwa, seolah-olah aparat ingin melindungi para ninja, walaupun tuduhan “ninja diganti orang gila itu” tak dapat dibuktikan. Tapi memang waktu itu tak sedikit orang yang mencurigai aparat sebagai dalang di balik kemunculan fenomena ninja. Terutama ketika lima oknum ABRI yang dicurigai ninja dan berhasil ditangkap warga. Lima tentara itu adalah Sersan Kepala Sugyo (anggota Subdenpom Banyuwangi), Sersan Kepala Slamet (anggota Koramil Kecamatan Glagah), Sersan Kepala Koko (anggota Koramil Rogojampi), Sersan Kepala Mahmud (anggota Koramil Rogojampi), dan Sersan Satu Saring (anggota Koramil Muncar).

Menaggapi kecurigaan itu, Mayor Jenderal Djoko Subroto, Panglima Kodam Brawijaya membantah desas-desus itu dengan keras, “Tak ada ninja. Itu hanya ilusi orang ketakutan.” (Gatra, Teror Santet: ABRI Sampai Menteri Kabinet). Demikian pula dengan pernyataan Jenderal Wiranto, yang waktu itu menjabat sebagai Panglima TNI. “Setelah saya masuk ke daerah ini dan merasakan apa yang terjadi, saya yakin dan pasti masalah ini bukan masalah keamanan belaka sehingga menjadi tanggung jawab ABRI. Ini masalah sosial-budaya, hukum, dan menyangkut struktur masyarakat,” katanya. (Fokus, Jenderal TNI Wiranto Tentang Aksi Pembunuhan dan Teror, Cipta Media, 1998).”

Tetapi selain kecurigaan terhadap ABRI, ada juga kecurigaan lain. Yakni, kecurigaan bahwa di balik peristiwa mengerikan di Banyuwangi itu adalah PKI. Pernyataan semacam ini keluar dari seorang intelektual muslim yang sangat terkenal rasional saat itu, Nurchlish Madjid. Katanya, “Banyuwangi yang terletak di Jawa Timur bagian selatan termasuk basis PKI. Cerita itulah yang kemudian membentuk memori kolektif lalu membangkitkan semangat untuk melakukan pembalasan dendam. Usia rata-rata yang dibunuh di atas 60 tahun. Mungkin mereka sudah punya catatan tentang siapa yang harus dibalas.” (Gatra, Gerakan Politik-Membantai Dukun Santet, 17 Oktober 1998).” Kecurigaan seperti itu juga muncul dari K.H. Ma’ruf Amin yang waktu itu sedang memegang jabatan Rais Syuriah PBNU. “Secara fisik mereka sudah hancur, tetapi secara ideologis mereka masih ada,” katanya (Saiful Rahim, Merah Darah Santet di Banyuwangi, 1998).

Namun, soal kecurigaan terhadap PKI, Abdurrahman Wahid -yang akrab dipanggil Gus Dur yang waktu itu sedang menjabat Ketua PBNU- tak sejalan. Gus Dur tak menganggap bahwa dalang di balik peristiwa itu adalah PKI, melainkan Kabinet Reformasi. Menurutnya, operasi itu dilakukan secara terorganisir dan sistematis bahkan menyerupai Operasi Naga Hijau (Surya, Gus Dur: Ada Menteri Terlibat, 20 Oktober 1998). Katanya, “buktinya tak hanya terjadi di Jawa Timur, tapi merembet ke Jawa Tengah, dan bahkan Jawa Barat. Sasarannya ‘pun jelas. Meskipun mereka berdalih sasaran mereka adalah dukun santet, tapi kenyataannya yang menjadi sasaran adalah guru mengaji, kyai, dan sejenisnya.” (Saiful Rahim, Merah Darah Santet di Banyuwangi, 1998).”

Kasus “ninja” saat itu benar-benar membingungkan. Susah untuk mencari siapa dalang di balik peristiwa itu. Namun yang jelas, peristiwa itu pernah terjadi dan bahkan sempat menyita perhatian media-media internasional. Salah satunya adalah Sydney Morning Herald, Australia. Koran itu menyampaikan kasus itu dengan judul berita, Indonesi’s New Wave of Terror (Louise Williams, Sabtu 7 November 1998). Dan ternyata juga pernah dimuat dalam laman berita online BBC News dua kali dengan masing-masing judul: Macabre Murders Sweep Java (David Willis, Selasa 13 Oktober 1998) dan Indonesia’s Ninja War (David Willis, Sabtu 24 Oktober 1998).

Bukan hanya menjadi bahan berita, kasus tersebut bahkan juga menjadi bahan riset berbagai peneliti. Buku- yang lahir dari peristiwa tersebut yang dijadikan sebagai rujukan awal dalam tulisan ini adalah Pendudukan, Paranormal, dan Peristiwa Pembantaian: Teror Maut di Banyuwangi, 1998 karya Jason Browdon.

1 Komentar

  1. Apa yang terjadi belakangan ini, yang katanya penyerangan kyai oleh orang gila adalah wbagian dari aksi duplikat peristiwa ninja 1998??

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*