Mengenang Industri Batik Ponorogo Yang Tenggelam Di Telan Zaman

Ponorogo zaman dulu (tahun 1950-1970) terkenal sebagai pusat industri. Meskipun posisinya tidak strategis, namun para pengusaha di kabupaten berhasil menembus segala sekat perbatasan geografis, minimnya transportasi hingga modal.

Di Kabupaten ini ada industri batik yang legendaris dan menjadi produsen tekstil yang mampu membuat Ponorogo bersaing dengan Solo dan Jogja sebagai penghasil batik terbaik. Ada dua paguyuban pengusaha batik, Yaitu:
– Koperasi Bakti
– Koperasi Pembatik

Koperasi Batik Bakti

Cikal bakal batik Bakti ini diprakarsai salah satunya oleh Mbah Lastri dan Mbah Hasan. Keduanya bergabung bersama Mbah Jamhuri mendirikan koperasi batik Bakti.

Kantor Koperasi Batik Bakti Ponorogo pertama berdiri berlokasi di rumah bapak Jamhuri (di Jl.KH.Ahmad Dahlan No.71, sekarang). 2 tahun kemudian Koperasi Batik Bakti mampu membangun kantor nya sendiri di timur Pasar Legi (Timur Pasar Songgolangit, Jl.Ahmad Dahlan No.43, sekarang).

Koperasi Batik Bakti ini berkembang sangat pesat, hingga pada tahun 1956 mampu membangun pabrik tekstil sendiri milik Koperasi Batik Bakti, berlokasi di desa Purwosari Kecamatan Babadan. Pabrik tekstil ini mulai beroperasi pada tahun 1958, tetapi belum mempunyai mesin tenun yang memadai.

Seiring dengan meningkatnya produksi, kemudian mesin tenun semakin bertambah jumlahnya, yang khusus didatangkan dari Jepang, hingga berjumlah kurang lebih 100 buah mesin. Tiap 1 buah mesin tenun ini mampu memproduksi kain mori (kain putih polos untuk bahan batik) sebanyak 48 yard (91,2meter) atau total produksinya mencapai sekitar 9.120 meter kain per hari.

Semua hasil produksi dari pabrik tekstil ini seluruhnya hanya untuk memenuhi kebutuhan anggotanya saja. Bisa dibayangkan betapa sangat besar dan majunya industri batik di Ponorogo waktu itu. Namun sekarang, pabrik tekstil milik Koperasi Bakti ini sudah di tutup dan tidak beroperasi lagi sejak tahun 2002 silam.

Koperasi Pembatik

Koperasi batik yang baru ini hasil gabungan dari 3 koperasi batik yang sudah ada–Koperasi Batik Kertosari, Koperasi Batik Patihan Wetan dan Koperasi Perbaikan di desa Pondok, Babadan–hingga kemudian terbentuklah koperasi batik yang di beri nama “Koperasi Pembatik” pada tanggal 9 Desember 1953.

Kantor Koperasi Pembatik ini pada awalnya berada di rumah Bapak Wongsohartono di desa Pondok kecamatan Babadan. Kemudian Dalam waktu yang singkat, pada tahun 1955, Koperasi Pembatik telah mempunyai 150 anggota dan mencatatkan omzet hingga 5juta rupiah setiap bulannya.

Pada tahun 1960, Koperasi Pembatik memulai mendirikan pabrik tekstil “Sandang Buana”, berlokasi di Jl.Arif Rahman Hakim, sekarang digunakan menjadi Pabrik Es. Pabrik tekstil ini beroperasi tahun 1964 dan secara bertahap kemudian mempunyai kurang lebih 200 mesin, yang mampu memproduksi kain mori kasar (kain blacu) sebanyak 25 meter per hari, per mesin. Hasil produksi kain mori kasar ini kemudian di finishing di Solo, menjadi kain mori halus.

Seperti halnya pabrik tekstil milik Koperasi Bakti, hasil dari pabrik tekstil Sandang Buana juga hanya untuk memenuhi kebutuhan anggota Koperasi Pembatik saja. Senasib dengan pabrik tekstil milik Koperasi Bakti, pabrik tekstil Sandang Buana pun akhirnya tutup dan tidak beroperasi lagi sejak tahun 2004.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*