Madiun Dipilih Jadi Ibukota Indonesia Yang Baru

Setelah melalui pertimbangan dan berbagai survei, akhirnya diputuskan bahwa Ibukota Indonesia yang baru dipindahkan dari Jakarta ke Madiun, masih di dalam pulau Jawa.

Jelas sekali keputusan ini sangat mengejutkan. Karena sebelumnya Pulau Kalimantan menjadi favorit untuk lokasi bagi Ibukota baru Indonesia Raya. Faktor keamanan jadi alasan utama, karena terlalu dekat sama negeri Jiran, takut jika sewaktu-waktu ditembak rudal jarak jauh.

Berdasarkan terawangan sosiologi antropoetnik cocoklogika, Pulau Kalimantan dipandang kurang cocok sebagai Ibukota. Diantara sebabnya, karena takut terjadinya persilangan perilaku antara Orang Kota dan Orang Utan.

Padahal sekarang saja, sudah terjadi persilangan perilaku antara Orang Kota yang perilakunya kampungan sehinga membuat marah Orang Kampung jika disebut kampungan. Padahal faktanya, orang kampung jauh lebih beradab daripada Orang Kota.

Jelas akan sangat susah untuk memenej tiga perilaku orang dalam satu kota, Orang Kota mentalita Jakarte, Orang Kampungan dan Orang Utan.

Kabupaten Madiun dipilih karena alasan infrastruktur dan keamanan.

Wilayah ini sudah terhubung dengan jalan tol trans Jawa. Rel kereta api doubel track. Dan yang terpenting pemerintah tidak perlu membangun bandara. Jarak ke Bandara Solo hanya 1 jam perjalanan saja.

Faktor lain adalah keamanan Ibukota dari serangan asing. Di kota Madiun sudah ada Pangkalan TNI AU terbesar yaitu Landasan Udara (Lanud) Iswahyudi.

Dan yang terpenting, dari Lanud ini, Pesawat Kepresidenan bisa terbang dan mendarat kapanpun tanpa terganggu penerbangan komersil agar bisa blusukan ke seluruh penjuru Nusantara memantau pembangunan.

Alasan historis lainya, di Madiun inilah lahirnya bendera merah putih di bawah panji Raja Jayakatwang, Raja terakhir wangsa Isyana. Bukan Wangsa Rajasa keturunan anak haram Ken Arok yang gak jelas siapa bapaknya.

Namun pemilihan ini ditentang oleh Kaum Asusiasi Menentang Presiden Terpilih yang disebut KAMPRET.

Mereka menuding bahwa pemilihan ini adalaj bukti bahwa Presiden itu antek-antek PKI generasi baru. Karena di Madiun pernah meletus pemberontakan PKI tahun 1948. Apalagi Presiden dinobatkan pada 22 Mei, hari lahir PKI.

Nalar golongan Kampret ini sudah mampet. Bahkan saat disodorkan bahwa di Madiun banyak komunitas keturunan Arab. Mereka menolak dengan dalih, bahwa kata Madiun mirip dengan kata Madyan. Madyan adalah nama kaum Nabi Syuaib yang terkena azab.

Demi mengobati rasa kecewa kaum Kampret yang jagoanya kalah. Madiun mengalah untuk tidak usah dipilih jadi Ibukota lagi. Biarlah selamanya dicap Kota PKI daripada muncul anarki di negeri ini.

Sekian, fiksi ini.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*