Kisah Nyata Petani Yang Selamat Setelah Terkubur 6 Tahun Dalam Sumur

Ilustrasi gambar Kuno. Foto: streetdirectory.com

Bulan Ramadhan sebentar lagi tiba. Masyarakat di beberapa daerah memiliki tradisi membawakan makanan atau menyiapkan makanan menjelang berbuka atau setelah solat Tarawih.

Pada Zaman Al-Faqih Al-Muthahhar Muhammad bin Al-sham terjadi sebuah kisah yang aneh dan menakjubkan tepatnya di daerah Al-Humrah, di bagian negeri Syiria. Di sana tinggal seorang petani yang shalih yang suka sekali bersedekah membawa makanan ke Masjid.

Bila malam tiba ia senantiasa pergi ke masjidnya untuk sholat dan selalu membawa lampu dan makanan bagi siapapun yang membutuhkan. Dia juga sangat suka menjamu para musafir yang menginap di masjid, menyediakan makanan dan minuman untuk mereka.

Pada suatu saat Allah takdirkan di daerah ini terjadi krisis air. Banyak sumur yang kering, termasuk sumur miliknya. Petani itu dibantu oleh anak-anaknya bermaksud memperdalam sumurnya agar memperoleh air. Ketika ia sedang berada di dalam sumur tiba-tiba bibir sumur ambrol, sebongkah bibir sumur jatuh dan menguburnya.

Anak-anaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak berani melakukan penggalian mencari jasad ayahnya yang tertimbun, karena resikonya adalah nyawa mereka sendiri. Mereka pasrah, dan menjadikan disitulah kuburan ayahnya.

Enam tahun kemudian. Anak-anaknya sedang memperbaiki sumur tersebut. Ketika penggalian sampai di bagian bawah, antara percaya dan tidak, mereka mendapati ayahnya masih hidup. Berceritalah ayahnya, “Di dalam sumur itu ternyata ada goa, ketika dulu jatuh aku masuk ke dalam goa itu, aku tidak terkubur karena sebatang kayu mendahului jatuh di depan mulut goa sehingga menghalangi bongkahan–bongkahan bibir sumur yang ambruk.

Di dalam goa amat gelap, beberapa saat kemudian Allah memberi pertolongan berupa munculnya sebuah lampu dan makanan yang biasa aku bawa ke masjid setiap malam, sehingga aku bisa bertahan hidup selama enam tahun”.

Tersiarlah peristiwa ini dan menjadi pelajaran yang berharga dan ramai diperbincangkan oleh manusia di pasar-pasar negeri Syiria. Imam Muhammad bin Ali Asy-Syakani dalam Kitab Al-Badru Ath-Tholi’ (I/492) dalam biografi Ali bin Muhammad Al-Bakri berkata, “Penulis Kitab Mathla’ Al-Budur”. Di antara orang yang pernah mengunjungi Petani tersebut ialah Muhammad bin Al-Asham.

Disalin dan diedit seperlunya dari kitab terjemahan berjudul Kisah Karomah Para Wali Allah. Sejak zaman Ibrohim Alaihissalam hingga 1344 Hijriyah, Penerbit PT Darul Falah, Jakarta, hal 500.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*