Kisah Kyai Pondok Modern Gontor Hampir Mati Dipancung PKI

Malam itu, KH. Imam Zarkasyi dan KH. Ahmad Sahal berdebat di dalam tahanan PKI. Keduanya rebutan mati.

“Zar, kalau nanti nama kamu dipanggil aku yang maju, biar kamu tetap hidup memimpin pondok,” ujar Kyai Sahal kepada Kyai Zarkasyi.

Kyai Zarkasyi pun langsung menolak, “Ini tanggung jawab saya, saya tetap yang maju,”

Keduanya pun terlibat perdebatan antara Kyai Sahal dan Kyai Zarkasyi. Kedua belah pihak saling bersikeras dan tidak ada yang mau mengalah.

“Aku masih muda, aku saja yang mati, kang mas yang sudah banyak ilmu lebih pantas meneruskan perjuangan pondok,” kata KH. Imam Zarkasyi.

“Zarkasyi kamu harus nurut, justru pondok butuh Kiai yang lebih muda kayak kamu. Saya yang sudah tua ini saja yang mati, kamu harus hidup,” kata KH. Ahmad Sahal.

Kedua Kiai pengasuh Pondok Modern Gontor itu ditangkap PKI dalam pelarian di daerah Sawo, Ponorogo saat hendak mengungsi ke Trenggalek. Mereka kemudian ditahan di Masjid Muhammadiyah yang sudah dijadikan penjara oleh PKI.

Beberapa hari sebelumnya, Pondok Gontor telah diserbu oleh PKI. Mereka mendapati pondok telah kosong, para santri dan Kiai telah mengungsi.

Kecuali seorang santri bernama, Imam Badri, yang kemudian jadi salah satu kiai pengasuh pondok Gontor kelak.

Imam Badri siap berkorban membela kyai-kyainya yang tengah diburu PKI. Biarlah sementara kyai yang mengungsi, dan biarlah dia yang mengaku sbg kyai, dan benar ditangkap PKI.

Setelah menangkap beliau, PKI hendak menangkap lurah Gontor KH. Rahmat Soekarto yang juga Imam masjid di Gontor. Atas kuasa Allah, mereka ternyata tidak bisa masuk ke dalam Pendopo yang berada di depan Masjid Pusaka.

Mereka sambil teriak “Endi lurahe? Gelem melu PKI po ra? Lek ra gelem, dibeleh sisan neng kene…!” (Mana lurahnya? Mau ikut PKI apa tidak? Kalau tidak mau masuk anggota PKI, kita sembelih sekalian di sini).

Marah, gerombolan PKI lalu mengobrak abrik Pondok dan membakar beberapa bagian asrama.

Imam Badri dibawa ke daerah Pulung untuk menunjukkan kemana para santri mengungsi. Beliau Sempat digedik (kepalanya dipukul benda keras) hingga pingsan, oleh Karyo Tuklek, si PKI.

Karena jalur ke Trenggalek melalui Sawoo ternyata sudah dikuasai PKI, para santri dan Kiai Gontor akhirnya ditangkap oleh PKI dan dibawa ke Masjid Muhammadiyah. Termasuk Imam Badri.

Rencananya pagi itu, PKI akan menggantung dulu Kiai Gontor di depan warga Ponorogo untuk menakuti agar mereka mau menurut pada Kiai. Lalu kemudian semua tahanan di dalam masjid akan dibakar hidup-hidup.

Beruntung pagi itu, datang serangan dari Pasukan Siliwangi dan Laskar Hizbullah dari Pesantren Tebu Ireng yang dipimpin KH. Yusuf Hasyim, putra bungsu KH. Hasyim Asy’ari. Kiai dan santri Pondok Gontor berhasil diselamatkan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*