Kisah Kehebatan Prajurit Muslim Rusia Chechnya di Suriah

Rusia pandai memainkan peran dalam perang Suriah membantu mengembalikan stabilitas negara itu dari rongrongan pemberontak. Setelah mengusir ISIS dan kaum pemberontak, untuk program rekonsiliasi, Rusia mengirimkan Polisi Militer beragama Islam.
Mereka berasal dari Batalyon Kaukasus Utara yang mayoritas beragama Islam dari suku bangsa Chechen. Dari negara bagian Cechnya yang dipimpin oleh Ramzan Kadyrov, Presiden Negara Bagian Cechnya dibawah Federasi Rusia.

Tujuan Rusia untuk menembus sekat penghambat antara Rusia dan Suriah, serta untuk memudahkan mengambil hati para penduduk Suriah yang sempat terbelah konflik sektarian. Makanya dipilih personel muslim, karena seagama.

Ditugaskan untuk misi patroli ringan dan menolong mendistribusikan bantuan kepada penduduk sipil yang jadi korban perang, pasukan di bawah Mayor Yusuf Mamatov itu terjebak dalam serangan milisi Jabhat al Nusra yang terafiliasi kepada Al Qaeda. Mereka pun akhirnya terpaksa memanggil bala bantuan yang datang di saat-saat tergenting.

kontingen Polisi Militer Rusia berhasil selamat setelah dua Su-25 yang lepas landas dari pangkalan Khmeimim tiba di saat-saat tergenting dan berhasil menyarangkan tembakan roket dan kanon dengan sangat telak. Jet yang terbang rendah di atas Idlib itu sukses mematahkan serbuan Jabhat al Nusra. Tanpa ampun, milisi Jabhat al Nusra yang beberapa saat lalu memegang keunggulan pun patah morilnya dan lalu menghentikan serangannya.
Selagi Su-25 terus menekan posisi lawan, para Polisi Militer dipimpin Mayor Yusuf Mamatov dan sejumlah pejuang dari suku Muali memanfaatkan kesempatan untuk keluar dari markasnya dan megundurkan diri ke arah pinggiran kota, menuju Hama sembari bertahan dari tembakan lawan, dimana kontingen dan iring-iringan kendaraan lapis baja Spetsnaz Rusia sudah dikirimkan untuk melakukan evakuasi para Polisi Militer tersebut dengan didukung oleh helikopter serbu.

Walaupun pertemuan dengan grup yang lebih besar sudah bisa dilakukan, nyatanya pertempuran masih berlangsung sengit, terbukti dengan terlukanya tiga orang anggota Spetsnaz dalam operasi pengunduran diri tersebut. Untungnya, semua kontingen Rusia di hari nahas tersebut berhasil pulang kandang dengan selamat, tak lepas dari bantuan pasukan pemerintah Suriah.

Presiden Putin yang dikabari kalau pasukannya diserang oleh Jabhat al Nusra yang sebenarnya telah sepakat menandatangani gencatan senjata pada 15 September jelas meradang. Ia memerintahkan serangan balasan, yang dieksekusi oleh kapal selam kelas Varshyavanka (Improved Kilo) yakni Veliky Novgorod yang menembakkan rudal jelajah Kalibr ke posisi Jabhat al Nusra dan sukses menghancurkan sasarannya berupa pos komando, tank, dan depot amunisi lawan. Pasukan Suriah dari Korps kelima kemudian melancarkan serangan balik yang berhasil merebut posisi pasukan Rusia yang sempat jatuh ke tangan Jabhat al Nusra.

Akan halnya dengan pasukan Polisi Militer Rusia yang selamat tersebut, seluruhnya mendapatkan medali kehormatan dari militer Rusia atas keberaniannya. Mayor Yusuf Mamatov sendiri diundang dalam rapat yang diadakan oleh Presiden Vladimir Putin pada saat ia berkunjung ke Suriah untuk menceritakan kisah unitnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*