Ki Ageng Kutu Sang Pengkhianat Majapahit Yang Harus Dipancung

Ki Ageng Kutu adalah salah satu panglima perang andalan Majapahit, seorang pendekar digdaya tanpa tanding di masa Raja Brawijaya V berkuasa. Dia membawahi pasukan para pendekar warok.

Kecewa terhadap sikap Brawijaya V yang doyan kawin dan terlalu tunduk pada selir kesayanganya dari Champa. Ki Ageng Kutu memilih pergi dari Kotaraja Trowulan, dia menyingkir ke Kadipaten Wengker.

Dia menganggap bahwa Brawijaya V tidak cakap memerintah, mudah disuap dengan wanita, lemah pada pengaruh asing sehingga jati diri sebagai orang Jawa sudah mulai hilang terkikis terkena pengaruh bangsa Arab, China dan India yang ramai berdagang.

Kontrol Majapahit terhadap wilayahnya makin lemah. Banyak adipati di kadipaten bawahanya yang berlaku bagaikan raja, berbuat sewenang-wenang pada rakyat kecil. Menarik pajak seenak udelnya, para pendeta agamawan juga diam saja karena sudah puas disuap.

Brawijaya V hanyalah simbol raja. Para Adipati bersikap munafik di depanya, seakan tunduk patuh pada perintahnya padahal di hadapanya. Di belakangnya, mereka siap menikam raja terakhir Majapahit itu.

Dia tahu persis bahwa Adipati Rajawijaya yang memimpin Kadipaten Daha (Sekarang Kediri) sedang menyiapkan pasukan untuk menyerang Kotaraja Trowulan.

Dalam pertimbanganya, Brawijaya V memang sudah seharusnya dilengserkan, namun sebagai prajurit dia tidak mau membunuh rajanya sendiri. Biarlah Ranawijaya saja yang menghabisinya, toh dia juga seorang pemuda yang cerdas, kuat, berwibawa dan sepertinya bisa mengembalikan kejayaan Majapahit.

Sebelum Ranawijaya menyerang, Ki Ageng Kutu membawa Batalyon Pasukan Warok ke Wengker dengan dalih menghukum Ki Ageng Mirah, adipati Wengker (sekarang Ponorogo) dengan dalih pengkhianatan. Serangan itu berhasil, dan dia pun memaklumatkan diri jadi Adipati Wengker.

Meskipun kalah, Ki Ageng Mirah berhasil lolos dan kabur ke Demak, meminta perlindungan dari Raden Fatah. Adipati Demak yang juga putra Brawijaya V dari selir Champa.

Kesempatan ini tak disia-siakan Ranawijaya. Trowulan, Ibukota Majapahit, yang sedang ditinggal anjing penjaganya, diserang habis-habisan.

Serangan itu meluluh lantakkan Trowulan, Raja Brawijaya V terbunuh. Sejak saat itu, Ibukota Majapahit di pindah ke Daha, Kediri, oleh Ranawijaya.

Raden Fatah langsung memaklumatkan perang pada Ranawijaya. Menuntut balas kematian ayahnya dan sebagai legitimasi yang sah sebagai penerus trah Majapahit. Dia juga mengincar Ki Ageng Kutu, yang dituduhnya ikut bertanggung jawab atas kejatuhan Brawijaya V.

Atas nasehat dan saran Ki Ageng Mirah. Sasaran pertama Raden Fatah adalah Ki Ageng Kutu, menaklukan Wengker di sisi barat Gunung Wilis, akan membuka jalan ke sisi timur Gunung Wilis. Juga untuk mencegah Ki Ageng Kutu bergabung ke kubu Ranawijaya.

Untuk misi penting ini, Raden Fatah menunjuk adiknya sendiri jadi panglima perang, yaitu Raden Harak atau Joko Piturun. Dia didampingi Ki Ageng Mirah. 

Perang Dahsyat pun berkobar! Ki Ageng Kutu yang sakti mandraguna dan diyakini sebagai titisan dewa, berhasil dikalahkan oleh Raden Harak.

Rakyat Wengker pun geger, “Bagaimana mungkin titisan dewa bisa dikalahkan manusia?”, anggapan mereka.

Ki Ageng Mirah tak kurang akal, jika Ki Ageng Kutu adalah titisan dewa, maka Raden Harak adalah Bathoro Katong (Dewa Yang Turun ke Bumi, nampak jelas)

Berkat usaha Ki Ageng Mirah itu, rakyat Wengker lalu menyakini bahwa Raden Harak adalah Bathoro Katong, nama yang kemudian melekat padanya.

Jatuhnya Wengker, membuka jalan bagi Demak untuk menaklukan Daha, yang dipimpin Ranawijaya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*