Ir. Sutami, Menteri Termiskin Dalam Sejarah Indonesia Dengan Prestasi Gemilang

Jika di jajaran kepolisian kita mengenal sosok Jenderal Hoegeng yang hidup sederhana. Kali ini perkenalkan Ir. Soetami, beliau adalah menteri yang hidup sederhana dan bersahaja. Padahal selama karirnya dia menjadi menteri 8 kali dan di tempat yang sangat basah karena menangani proyek-proyek prestisius.

Ir. Sutami atau Soetami lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 19 Oktober 1928, beliau meninggal di Jakarta, 13 November 1980 pada umur 52 tahun) adalah seorang insinyur sipil yang pernah menjabat Menteri Pekerjaan Umum Indonesia.

Ir. Sutami sudah menjadi Menteri sejak tahun 1964 pada Kabinet Dwikora I masa pemerintahan Presiden Soekarno sebagai Menteri Negara diperbantukan pada Menteri Koordinator Pekerjaan Umum dan Tenaga untuk urusan penilaian konstruksi hingga tahun 1978 pada Kabinet Pembangunan II masa pemerintahan Presiden Soeharto selama 13,5 tahun.

Di bawah pengawasannya, proyek raksasa seperti Gedung DPR, Jembatan Semanggi dan Waduk Jatiluhur, dibangun. Sutami pula yang memimpin proyek pembangunan Bandara Ngurah Rai.

Jika hari lebaran tiba, para tamu pun bersilaturahmi. Namun betapa terkejutnya mereka saat menginjakkan kaki di rumah Menteri Sutami. Bukan kemewahan yang ada, namun rumah sederhana yang atapnya bocor di mana-mana. Padahal sebagai pejabat negara yang menangani proyek-proyek besar, Menteri Sutami bisa saja hidup bergelimang kemewahan.

Sosoknya sangat pendiam dan sederhana. Rumahnya di Jl. Imam Bonjol punia beli secara mencicil dan baru lunas menjelang pensiun. Tak pernah ia menggunakan fasilitas negara di luar pekerjaannya. Saat pensiun, semua ia kembalikan, termasuk mobil dinasnya.

Seorang pengusaha pernah ingin memberinya mobil karena tahu mobil dinas Sutami akan dikembalikan. Namun sang Menteri menolak dengan halus. Ia memilih meminta diskon sedikit dan membayar mobil itu.

Sebagai insinyur sipil lulusan Institut Teknologi Bandung, ia sangat menyukai pekerjaan lapangan. Wartawan kerap memanggilnya ‘Menteri yang tidak punya udel’. Sutami mampu jalan kaki puluhan kilometer untuk meninjau daerah terpencil. Jika ada ojek, ia naik. Jika tidak ada, maka menteri sederhana ini akan berjalan kaki hingga bertemu masyarakat sekitar.

Di masa Orde Baru, Sutami menjadi sosok di balik suksesnya transmigrasi dari Pulau Jawa ke beberapa titik yang ada di Pulau Sumatera. Program transmigrasi tersebut dilakukannya dengan sangat mulus. Ia memindahkan penduduk dari Pulau Jawa dengan menggunakan pesawat supaya lebih cepat.

Sutami selama masa hidupnya telah dilantik sebanyak delapan kali sebagai seorang menteri di tiga kabinet yang berbeda.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*