Hati-hati Kualat Sama Kyai Gontor

“Hati-hati kualat sama keluarga Kyai Gontor, uripmu iso soro,”

Demikian nasehat Mbah Min, tukang kusir andong kuda tahun 1990-an . Yang kurang lebih artinya, “hati-hati dengan keluarga Kyai Gontor, Hidupmu visa kualat sengsara”.

Mbah Min bercerita banyak tentang tragedi santri-santri yang nakal, yang mencoba memberontak pada Kyai Sahal dan Kyai Zarkasyi pada 19 Maret 1967. Banyak santri yang waktu itu menjadi gila mendadak setelah berdemo mengepung rumah Kyai Sahal.

Saat subuh, Kyai Sahal membuka pintu hendak pergi ke masjid. Para santri pendemo yang sedang tertidur, tiba-tiba bangun menjerit ketakutan, berlari ke segala arah.

Seorang santri lari kecemplung sumur di rumah Mbah Min. Setelah ditolong, santri bercerita, dia merasa seperti melihat harimau dan terus dikejarnya. Santri tersebut akhirnya memilih pulang, tanpa ridlo sang Kyai. Beberapa santri yang menjadi otak dari demonstrasi tersebut, menjadi gila permanen.

Gontor sekarang ini sudah dipimpin oleh generasi kedua. Namun para Kyai muda yang ditunjuk untuk meneruskan estafet kepemimpinan ini ternyata mewarisi apa yang dimiliki para pendiri Gontor.

Iso malati atau bisa bikin kualat.

Alkisah ada 4 pondok besar yang berdiri di didirikan oleh alumnus Gontor juga. Pada tahun 1990-an adalah masa kejayaan pondok-pondok tersebut.

Hingga tiba di suatu masa, ke-4 nya minta izin untuk membuka pondok pesantren putri.

Sang Kyai Muda mengizinkan dengan syarat, Pondok Putri harus terpisah dengan lokasi Pondok Putra. Jika tidak siap, pondok putra saja.

Hanya 1 yang menurut sedang yang 3 tetap nekad mengindahkan nasehat tersebut. Hasilnya, hanya pesantren yang mengikuti anjuran Kyai Gontor tersebut yang terus berkembang sampai sekarang.

Nasib para Bupati Pembangkang.

Tahun 1993, Camat Ngebel mulai membuat acara larungan buceng di Telaga Ngebel, serta penanaman kepala dan kaki kambing di sekitarnya. Acara ini diklaim sebagai tradisi untuk mencegah agar tidak ada lagi kecelakaan orang tenggelam di telaga Ngebel.

Tahun 1997, Kyai Gontor menulis surat ke Bupati Markum saat itu. Bahwa acara ini perlu diluruskan. Berdasarkan arahan Kyai, acara tersebut lalu diganti menjadi larung risalah doa.

Setelah Bupati Markum turun, ternyata prosesi acara larungan tak lagi melibatkan Gontor, kembali pada ritual sebelum 1997.

Walhasil, para pejabat Bupati sebagai pemangku kebijakan tertinggi di pemerintahan Ponorogo, tidak ada lagi yang bisa khusnul Khatimah dalam jabatanya.

Ada yang bangkrut lalu menjadi narapidana, ada juga yang mati muda, dan tidak lagi terpilih untuk yg kedua kali.

Para Kyai di Pesantren Gontor agak berbeda dengan Kyai-kyai di pesantren lain. Dengan kebesaran dan kemegahan Pondok Gontor saat ini, mereka tetap hidup sederhana dan tidak memperkaya diri.

Tengoklah rumah para Kyai Gontor, sangat sederhana sekali. Jauh sekali dibandingkan dengan Asrama Santri yang megah.

Ada seorang dukun pijat yang menjadi langganan Kyai Hasan (salah satu Kyai Gontor) menangis jika memijat sang Kyai. Karena memang Pak Kyai ini hampir tidak punya daging, terus bagaimana cara memijatnya?

Hikmahnya, berhati-hatilah dengan Gontor. Bukan cuma sekedar desa, tapi dia juga lautan keikhlasan yang tenang menghanyutkan.

Termasuk jika menitipkan anak untuk nyantri Gontor. Taati dan patuhi aturan disiplinya, jangan mengakali. Jika tidak, ilmu dan pendidikan yang didapat bisa tidak barokah, hidup jadi susah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*