Gerakan Stop Beli Koran Sampai Kusno Dipecat Dari Radar Jogja

Konflik sosial tengah terjadi di Jogja pada khusus dan Indonesia secara luas di dunia maya. Konflik ini harusnya juga menjadi pembuka mata bahwa media informasi statis atau satu arah seperti media cetak dan TV sudah enggak laku lagi di masyarakat.

Asal muasal Konflik.

Grup Facebook Info Cegatan Jogja (ICJ), membuat aksi massa tentang bahaya Klitih, yaitu para pelajar di Jogja yang hobinya main teror pada malam hari.

Ternyata, aksi massa tersebut disiarkan oleh MNC TV sebagai aksi pemilu damai. Kan keliru banget to?

Presiden ICJ jelas gak terima, karena pesan aksi tersebut melenceng jauh.

Mas Antok, panggilan akrab Yanto Sumantri , sang Presiden ICJ. Dia meminta informasi tentang kontak MNV TV yang bisa dihubungin kepada anggota dan follower ICJ yg jumlahnya mencapai 1juta tersebut.

Akhirnya, Presiden ICJ berhasil menemui wartawan peliput aksi tersebut. Mereka pun minta maaf karena memang menyebarkan hoax, yang menurut kamus besar Bahasa Indonesia, Hoax adalah berita bohong. Bohong artinya tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya.

Masalah dianggap selesai oleh Mas Antok. Dia pun menghapus postingan tersebut dan pihak MNC meralat beritanya. Semuanya senang dan bahagia.

Biang kerok muncul bernama Kusno Setyo Utomo.

Sehari setelah kesepakatan damai tersebut. Tiba-tiba muncul seorang bernama Kusno Setyo Utomo, mengaku sebagai Ketua Tim Advokasi Wartawan Yogyakarta.

Kusno mengacaukan kesepakatan tersebut. Melaporkan Presiden ICJ ke Polisi dengan menuding Mas Antok sudah melecehkan wartawan.

“Kami laporkan pemilik akun Facebook atas nama Yanto Sumantri atas postingan status yang disertai capture berita MNC TV Inews Yogyakarta pada 11 Januari 2019 lalu. Postingan tersebut menyerang, melecehkan dan menciderai profesi jurnalis,” ujarnya di Mapolda DIY

Kusno Sang Kontroversionil.

Kusno adalah wartawan Radar Jogja. Ini bukan kali pertama dia memancing perhatian warga Jogja. Tahun 2004, kusno pernah dihajar orang karena tulisanya.

Saatnya Warga Jogja Menghukum Koran Nakal ini.

Jumlah penduduk DIY ada 3,6juta jiwa. Anggota ICJ 1 juta akun. Oplah media cetak di Jogja hanya tinggarutin

ribu dalam sehari.

Jika laporan Kusno tidak dicabut, saatnya warga ICJ bersatu dengan memboikot beli koran Radar Jogja.

Caranya?

Pertama, Lakukan penggalangan dana dengan estimasi pendapatan

20.000 rupiah X 100.000 anggota yg urunan dari 1juta orang = 2 milyar rupiah.

Kedua, Boikot penjualan koran media cetak Radar Jogja tempat Kusno bekerja. Dengan cara mengajak para pengasong agar tidak menjual Radar Jogja. Sebagai imbalan, beri uang 100.000rb per hari.

Jika total ada 1.000 pengasong/agen koran di Jogja. Maka uang 2 Milyar itu sudah cukup untuk memboikot Radar Jogja selama 20hari.

Jika kurang, maka bisa diperpanjang sampai selamanya.

Pasti bisa, hanya dengan iuran rutin 20.000/bulan, daripada beli koran Radar Jogja yg harganya 6.000/koran, mending untuk nyangonin para pengasong agar tidak menjual Radar Jogja selamanya.

Gimana gaes, setuju …. saya siap urunan 100.000rb per bulan.

Save Mas Antok.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*