Ciri Orang Kuat Menurut Nabi

Oleh: Syamsul Bahri

Sore itu sepulang dari membeli keperluan bersama si kecil, nampak di depan kami sebuah truk besar mengangkut banyak sekali semen. Saking banyaknya, sampai tumpukan sak-sak semen itu melampaui batas bak truk tersebut. Meskipun dengan muatan banyak, truk tersebut melaju dengan kecepatan cukup tinggi, padahal jalan yang di lalui adalah jalan utama kota, satu arah dan melewati pasar Induk Banyuwangi yang sore itu suasana cukup rame.

Tiba-tiba sebuah mobil bak terbuka tanpa muatan melaju dari belakang kami dengan kecepatan lebih tinggi dan langsung mendahului kami, juga truk bermuatan semen itu. Pengemudi mobil bak terbuka tersebut berulang kali membunyikan klakson dengan maksud agar diberi jalan melaju terlebih dahulu. Namun, sepertinya supir truk pengangkut semen itu tidak terima karena dilewati supir bak terbuka itu dengan kasar.

Terjadilah di depan kami kejar-kejaran antara truk dan pick-up, beruntung kami harus melalui jalan yang berbeda dari dua kendaraan itu. Karena kami harus terus jalan lurus, sementara dua mobil melaju dengan cepat belok ke kanan, dengan posisi pik-up lajur kanan, sementara truk semen itu hendak mengejar dari lajur kiri. Masih nampak di depan kami dua kendaraan itu melaju cepat.

Tanpa disangka, tiba-tiba suara keras benda terjatuh terdengar dari arah kendaraan truk besar itu. Ternyata saat truk melaju hendak mengejar pik-up di belokan tersebut, sak-sak semen yang melebihi bak muatan tersebut berjatuhan, karena sak semen-semen tersebut tidak diikat, ditambah laju cepat truk tersebut saat berbelok sehingga menjadikan semen-semen yang di susun pada bagian atas truk berjatuhan di jalan dan pecah berserakan di jalan raya.

Beruntung, saat beberapa sak semen itu terjatuh tidak ada orang atau kendaraan yang berada di sebelah truk, sehingga tidak ada korban dalam kejadian tersebut. Supir truk tersebut itupun akhirnya menghentikan mobilnya, dia turun dengan wajah khawatir kemudian mengambil beberapa sak semen yang masih utuh untuk diangkut kembali ke atas truknya.

Demikianlah marah, sering kali seseorang yang tersulut amarah berkeinginan memberi pelajaran kepada orang lain agar menyesali apa yang telah diperbuat. Namun ternyata dia sendiri yang mendapat pelajaran dan penyesalan dari apa yang telah dilakukan.

Betapa banyak pesan Rasulullah berkenaan dengan menahan diri dari marah, “Jangan marah! Jangan marah!” “Jangan marah, maka bagimu surga”. “Siapa menahan marahnya, maka Allah akan menahan adzab atas dirinya.” “Sesungguhnya orang kuat bukanlah dia yang kuat bergulat, namun dia yang dapat menahan dirinya saat marah.” Dan lain sebagainya.

Semoga di momen puasa ini kita semakin dapat melatih diri untuk mengendalikan nafsu ‘ammarah bissu’, tidak hanya menahan dari makan, minum dan yang membatalkan. Juga menahan diri dari hal yang dapat menggugurkan pahala puasa, dari berkata bohong, berkata jelek, mengumpat, sumpah palsu dan menjaga pandangan dari melihat yang dimurkai Allah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*