Benarkah Bung Karno Harus Membunuh Dewan Jenderal Angkatan Darat?

Salah satu hipotesa tentang gerakan G30S/PKI adalah, bahwa dalang utamanya Presiden Soekarno sendiri. Jika memang benar beliau dalangnya, lalu apa alasanya?

Setidaknya ada tiga buku yang menuding Presiden Sukarno terlibat dalam peristiwa G30S:
1. Victor M. Fic, Anatomy of the Jakarta Coup, October 1, 1965 (2004).

2. Antonie C.A. Dake, The Sukarno File, 1965-67: Chronology of a Defeat (2006) yang sebelumnya terbit berjudul The Devious Dalang: Sukarno and So Called Untung Putsch: Eyewitness Report by Bambang S. Widjanarko (1974)

3. Lambert Giebels, Pembantaian yang Ditutup-tutupi, Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno.

Permusuhan Soekarno
Di tahun 1950-an, Soekarno sudah menjadi diktator yang tidak peduli pada kesejahteraan rakyat. Dia seperti lupa bahwa tujuan Indonesia merdeka adalah kesejahteraan rakyat, dia lebih mementingkan ketenaran nama besar dirinya di dunia.

Memasuki tahun 1960, rakyat Indonesia sangat menderita karena krisis ekonomi akibat dari kebijakan Soekarno yang lebih mementingkan beli senjata untuk perang melawan Malaysia dibandingkan ngasih makan rakyat.

Secara politis, Soekarno hampir kehilangan dukungan dari semua partai politik, bahkan partai beralisan nasionalis seperti Murba dan PNI juga mulai mundur darinya.

Militer dari Angkatan Darat (AD) juga dengan tegas menolak perang melawan Malaysia, karena rakyat sedang kelaparan. Sekedar beli garam saja, mereka tak mampu.

Di saat sepi sokongan tersebut, tampilah PKI yang menyatakan janji setia pada Soekarno. Dukungan PKI sama artinya dengan dukungan dari China dan Moskow secara total. Dia pun membentuk poros Beijing-Jakarta.

Aliansi AD, Partai Islam dan Partai Nasionalis makin menjauh dari Bung Karno. Dia pun mengajukan gagasan NASAKOM (Nasionalis, Agama dan Komunis) untuk merayu kalangan Islam dan Nasionalis agar mau mendukungnya.

Usaha itu gagal, pengaruh komunis lebih dipercaya. Dua partai besar, Partai Masyumi (Islam) dan Partai Murba (Nasionalis) dibubarkan dengan alasan makar.

Satu-satunya harapan rakyat agar lepas dari jerat Presiden Diktator Seumur Hidup ini hanya ada di pundak Angkatan Darat.

Soekarno telah dinobatkan oleh MPR menjadi Presiden Seumur Hidup, satu-satunya cara menurunkanya adalah harus dibunuh.

Sampai tahun 1965, Musuh PKI hanya tersisa dua: AD dan Partai NU.

Untuk melumpuhkan NU, PKI sudah menyiapkan angkatan kelima, yaitu barisan Tani dan Buruh yang diberi senjata dari China. Ide yang ditentang habis-habisan oleh AD. Nasib warga NU, Kyai dan Pesantren sudah siap dibunuh oleh PKI mereka digolongkan sebagai setan desa.

Untuk melumpuhkan TNI AD, PKI menyebar isu tentang adanya Dewan Jenderal yang dibekingi Amerika Serikat (AS) yang akan menggulingkan Presiden Soekarno. Isu terus disebarkan oleh media-media milik PKI.

AD marah besar karena Soekarno tak ada upaya untuk menegur PKI agar menghentikan berita bohong itu. Mereka sempat mengepung Istana Merdeka dengan moncong meriam tank.

Demonstrasi anti Soekarno dan anti PKI semakin marak. Anggota PKI di bawah makin beringas karena mereka mendapat janji akan diberi tanah gratis jika reformasi Undang-undang (UU) pertanahan yang diajukan Presiden disahkan.

PKI mulai menyerobot tanah dan membaginya ke anggota PKI dengan alasan UU pertanahan baru akan segera disahkan.

Tanggal 5 Oktober 1965 semakin dekat. PKI munculkan isu bahwa TNI.AD akan menggelar parade senjata terbesar dan mengundang warga. Senjata dan kumpulan massa yang besar, sudah cukup untuk menggulingkan Soekarno.

Dini hari 1 Oktober 1965. Entah siapa yang memberi komando, pasukan Cakrabhirawa dengan yakin bergerak maju melaksanakan tugas menjemput para Jenderal Angkatan Darat, hidup atau mati, untuk menghadap kepada Presiden Soekarno.

Bisa jadi perintah tugas itu datang dari inisiatif pribadi Kolonel Untung bin Syamsuri demi keamanan Soekarno menjelang 5 Oktober, dia sendiri juga sempat ngasih tahu ke Jenderal Soeharto, mantan komandanya di Kodam Diponegoro.

Tapi jika perintah datang dari sekelas Kolonel, kok ya para prajurit bawahan di resimen Tjakrabhirawa bisa selancang itu menggedor rumah para Jenderal.

Yang pasti, tujuan utama penculikan para jenderal adalah agara mereka mau mengakui adanya Dewan Jenderal Angkatan Darat yang siap menggulingkan Presiden Soekarno.

Sayang tujuan itu gagal. Para Jenderal memilih mati daripada mengakui bahwa mereka punya niat mengkhianati presiden yang juga panglima tertinggi.

Sayangnya, untung tidak pernah membuka rahasia tentang siapa pemesan “surat pengakuan dewan jenderal” itu.

Apakah itu pesanan Soekarno sebagai bukti bahwa dia harus menindak pengkhianat revolusi?

Atau malah itu pesanan Soeharto untuk menyingkirkan para Jenderal pesaingnya lalu tampil sebagai pahlawan di depan Soekarno agar dia bisa menguasai AD?

Bisa juga, itu adalah benar pesanan Aidit dan PKI untuk menggembosi AD, lalu menyingkirkan NU untuk menjadi partai tunggal di Indonesia. 1 Negara 1 Partai, seperti halnya negara-negara komunis lainya.

Yang pasti, mustahil jika malam itu Untung bergerak atas inisiatif sendiri karena di dalam Dewan Revolusi yang dia umumkan di RRI berisi personel militer yang lebih tinggi pangkatnya darinya.

Dewan Revolusi yang diumumkan Untung bin Syamsuri di RRI pada 1 Oktober 1965

1. Letnan Kolonel Untung Syamsuri (Komandan G30S)

2. Brigadir Jenderal Soepardjo (Wakil Komandan G30S)

3. Letnan Kolonel Heru Atmodjo (Wakil Komandan G30S)

4. Kolonel Sunardi (Wakil Komandan G30S)

5. Ajun Komisaris Besar Polisi Anwas Tanuamidjaja (Wakil Komandan G30S)

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*