Barokahnya Al-Quran Sebagai Sumber Kemuliaan

Oleh: Syamsul Bahri

Jika kita buka kamus bahasa Arab dan mencari arti kata tsaqil (ثقيل) maka kita akan mendapati bahwa salah satu dari arti tsaqil adalah berat. Pernahkah kita mencoba menelaah dan mengkaji berapa kali kata ‘tsaqil’ disebutkan dalam Al-Qur’an?

Kata tsaqila tertulis dalam Al-Quran hanya dua kali. Pertama, يوما ثقيلا (QS. Al-Insan: 27) yang berarti hari kiamat. Kedua, قولا ثقيلا (QS. Al-Muzzammil: 5) yang berarti Al-Qur’an. Dari ayat tersebut kita dapat mengambil hikmah, bahwa siapa yang menginginkan selamat pada “yaumun tsaqil” (hari kiamat) hendaklah berpegang teguh selama di dunia pada “qaulun tsaqil” (Al-Qur’an).

Teruslah berteman dan menyelami samudera hikmah Al-Qur’an, karena di sanalah segala kunci kebahagiaan telah Allah pesankan untuk pedoman hidup seluruh hamba-Nya. Dan Al-Qur’an itu pula sumber kemuliaan seorang hamba di sisi Allah Ta’ala

Sungguh, segala sesuatu yang terhubung dengan Al-Qur’an akan menjadi mulia. Malaikat Jibril turun membawa Al-Qur’an, diapun menjadi pemimpin para malaikat. Nabi Muhammad SAW turun kepadanya Al-Qur’an, beliaupun menjadi pemimpin para Nabi.

Al-Qur’an turun kepada kita umat Nabi Muhammad SAW, sehingga menjadi umat terbaik. Al-Qur’an juga turun di bulan Ramadlan, sehingga Ramadhan menjadi penghulu seluruh bulan. Al-Qur’an turun di malam lailatul Qadr, sehingga malam itu menjadi malam terbaik dari 1000 bulan.

Sesungguhnya Al-Qur’an ini jika tertanam di hati seseorang, maka dia akan menjadi manusia terbaik. Karena Nabi SAW bersabda “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya”.

Dengan demikian, jika Al-Qur’an terlibat dalam kehidupan kita, di salah satu hari-hari kita, maka hari itu akan menjadi hari terbaik bagi kita. Dan hari-hari kita yang paling baik adalah hari-hari yang kita berlalu bersama Al-Qur’anul Karim.

Bacalah Qur’an setiap hari 1 juz. Jika tidak mampu, bacalah setengah juz. Jika tidak mampu, bacalah seperempat juz. Kalau tidak mampu, bacalah sekedar 1 lembar atau 1 halaman. Kalau tidak mampu bacalah meski hanya 1 ayat saja.

Jika yang demikian masih tidak mampu juga, cukuplah kita dengan memandangi Al-Qur’an dan tanyalah kepada diri sendiri: “Ya Allah, dosa apa yang telah kuperbuat sehingga diri ini tidak sanggup membaca ayat-Mu?”

Semoga kita, keluarga, anak, cucu, serta semua keturunan kita hingga akhir zaman Allah jadikan termasuk dari golongan ahli Al-Qur’an.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*